
Foto: Instagram/@gandhi.mahendra
Salah satu ikon yang terkenal dari Gresik ialah Damar Kurung. Dalam bahasa Jawa sendiri, “damar” memiliki arti lampu, sementara “kurung” ialah terkurung. Jadi dapat disimpulkan Damar Kurung adalah lampu yang terkurung.
Damar Kurung menyerupai sebuah lampion berbentuk kubus. Tiap sisi bangun terbuat dari kertas dan rangkanya berbahan bambu. Setiap sisi Damar Kurung terdapat pola gambar yang memiliki sebuah cerita. Supaya gambar pada kertas putih tersebut terlihat lebih menarik, di dalamnya diberi lampu berwarna kuning atau lilin. Bahkan kini terdapat kreasi Damar Kurung yang dapat dilipat dan keempat sisinya menggunakan material acrylic sehingga nyala lampunya semakin terang.
Cerita yang diangkat dalam gambar di setiap sisi Damar Kurung adalah tentang kegiatan sehari-hari masyarakat Gresik. Beberapa di antaranya cerita tentang pasar malam, kondisi pasar, kesibukan di pesisir, dan kebudayaan masyarakat setempat. Menariknya cerita dalam Damar Kurung ini selalu bergerak dari arah kanan ke arah kiri, seperti cara membaca tulisan Arab.
Foto: goodnewsfromindonesia.id
Seniman yang aktif dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi Damar Kurung adalah Masmundari. Kemampuan Masmundari melukis diperoleh dari hasil melihat dan mengamati ayah, paman, dan kakak perempuannya. Lingkungan Masmundari tinggal juga sangat berperan dalam membentuk karakteristik karya-karyanya. Kebudayaan yang sudah melekat dalam tradisi setempat seperti Malem Selikur, Malem Selawe, Rebo Wekasan, Malem Lailatul Qadar, dan Padusan dijadikan Masmundari sebagai ide dalam penciptaan karya-karyanya.
Ciri lain dari Damar Kurung karya Masmundari ialah penggunaan warna-warna terang seperti kuning, merah, hijau, biru, dan merah jambu. Sebagian besar lukisan Masmundari kental bercerita tentang kegiatan keagamaan seperti salat berjamaah, mengaji, “nyekar” ke makam saudara yang telah meninggal sebelum bulan Ramadan, kesenian hadrah, dan lain-lain. Dari gambaran itu sangat terlihat bahwa Masmundari mencoba untuk mengenalkan ke dunia luar bahwa Gresik adalah daerah yang kental dengan nuansa Islam.
Foto: goodnewsfromindonesia.id
Terkadang, Damar Kurung buatan Masmundari ini dipasang oleh orang yang sedang memiliki hajatan untuk menghiasi rumah, jalan, dan sebagai petunjuk bagi para tamu. Memasang kerajinan Damar Kurung selama bulan Ramadan juga sudah menjadi tradisi masyarakat di kawasan Tlogo Pojok Gresik.
Damar Kurung merupakan ikon tertua di Kota Gresik. Seperti yang tertulis pada buku Macapat, bahwa Damar kurung telah ada sejak zaman Hindu-Budha, pemerintahan Sunan Giri, Kolonial Belanda dan Jepang, hingga sekarang. Apabila diperhatikan lebih teliti, pola gambar pada Damar Kurung seperti bentuk relief candi dan wayang beber, serta pengadekan pada wayang kulit. Bentuk gambar manusia pada Damar Kurung juga mirip dengan cara menggambar tokoh wayang yakni tampak samping.
Terlihat dari bentuknya berupa lampion, Damar Kurung merupakan salah satu kebudayaan yang menyerap dari kebudayaan Cina. Namun, Damar Kurung memiliki keunikan dan nilai-nilai lokal yang kental. Jika lampion yang dipakai warga Tionghoa adalah wujud kesempurnaan dan keberuntungan, maka Damar Kurung dibuat hanya untuk dekorasi dan penerangan rumah saja.
Damar Kurung menyerupai sebuah lampion berbentuk kubus. Tiap sisi bangun terbuat dari kertas dan rangkanya berbahan bambu. Setiap sisi Damar Kurung terdapat pola gambar yang memiliki sebuah cerita. Supaya gambar pada kertas putih tersebut terlihat lebih menarik, di dalamnya diberi lampu berwarna kuning atau lilin. Bahkan kini terdapat kreasi Damar Kurung yang dapat dilipat dan keempat sisinya menggunakan material acrylic sehingga nyala lampunya semakin terang.
Cerita yang diangkat dalam gambar di setiap sisi Damar Kurung adalah tentang kegiatan sehari-hari masyarakat Gresik. Beberapa di antaranya cerita tentang pasar malam, kondisi pasar, kesibukan di pesisir, dan kebudayaan masyarakat setempat. Menariknya cerita dalam Damar Kurung ini selalu bergerak dari arah kanan ke arah kiri, seperti cara membaca tulisan Arab.
Foto: goodnewsfromindonesia.id
Seniman yang aktif dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi Damar Kurung adalah Masmundari. Kemampuan Masmundari melukis diperoleh dari hasil melihat dan mengamati ayah, paman, dan kakak perempuannya. Lingkungan Masmundari tinggal juga sangat berperan dalam membentuk karakteristik karya-karyanya. Kebudayaan yang sudah melekat dalam tradisi setempat seperti Malem Selikur, Malem Selawe, Rebo Wekasan, Malem Lailatul Qadar, dan Padusan dijadikan Masmundari sebagai ide dalam penciptaan karya-karyanya.
Ciri lain dari Damar Kurung karya Masmundari ialah penggunaan warna-warna terang seperti kuning, merah, hijau, biru, dan merah jambu. Sebagian besar lukisan Masmundari kental bercerita tentang kegiatan keagamaan seperti salat berjamaah, mengaji, “nyekar” ke makam saudara yang telah meninggal sebelum bulan Ramadan, kesenian hadrah, dan lain-lain. Dari gambaran itu sangat terlihat bahwa Masmundari mencoba untuk mengenalkan ke dunia luar bahwa Gresik adalah daerah yang kental dengan nuansa Islam.
Foto: goodnewsfromindonesia.id
Terkadang, Damar Kurung buatan Masmundari ini dipasang oleh orang yang sedang memiliki hajatan untuk menghiasi rumah, jalan, dan sebagai petunjuk bagi para tamu. Memasang kerajinan Damar Kurung selama bulan Ramadan juga sudah menjadi tradisi masyarakat di kawasan Tlogo Pojok Gresik.
Damar Kurung merupakan ikon tertua di Kota Gresik. Seperti yang tertulis pada buku Macapat, bahwa Damar kurung telah ada sejak zaman Hindu-Budha, pemerintahan Sunan Giri, Kolonial Belanda dan Jepang, hingga sekarang. Apabila diperhatikan lebih teliti, pola gambar pada Damar Kurung seperti bentuk relief candi dan wayang beber, serta pengadekan pada wayang kulit. Bentuk gambar manusia pada Damar Kurung juga mirip dengan cara menggambar tokoh wayang yakni tampak samping.
Terlihat dari bentuknya berupa lampion, Damar Kurung merupakan salah satu kebudayaan yang menyerap dari kebudayaan Cina. Namun, Damar Kurung memiliki keunikan dan nilai-nilai lokal yang kental. Jika lampion yang dipakai warga Tionghoa adalah wujud kesempurnaan dan keberuntungan, maka Damar Kurung dibuat hanya untuk dekorasi dan penerangan rumah saja.
Artikel ini ditulis oleh Dina Stevany
Berita Terkait
Erau, Festival Lokal yang Kini Go Internasional
Lifestyle 08 Oktober 2020Menyejukkan Diri di Wisata Alam Gosari
Food & Travel 15 September 2020Budaya Palang Pintu Betawi di Tangerang Selatan
Lifestyle 15 September 2020Proses Panjang Sebelum Sejoli Menikah dalam Suku Minangkabau
Lifestyle 14 September 2020Pesona Budaya Kampung Adat Bena Flores
Food & Travel 08 September 2020Mengenal Klenteng Boen Tek Bio di Kota Tangerang
Food & Travel 01 Agustus 2020
Terbaru
Menyepi Hati Di Pantai Sibolazi
Food & Travel 30 Oktober 2020Menyusuri Pasir Hitam di Pantai Tebing
Food & Travel 30 Oktober 2020Digerati House Sajikan Kopi Mulai Jam 7 Pagi
Food & Travel 30 Oktober 2020Alun-Alun Baru, Tempat Warga Depok Bercengkerama
Food & Travel 29 Oktober 2020Kue Muso, Kue Tradisional Favorit Warga Jambi
Food & Travel 29 Oktober 2020Kemping Cantik Di Tengah Hutan Di Sukabumi
Food & Travel 29 Oktober 2020Menikmati Sirup Kawista, Kesegarannya Setara Cola
Food & Travel 29 Oktober 2020
Berita Video
Popular Tags
Trending
Berburu Mainan di Jakarta Toys & Comics Fair 2020
News 29 Februari 2020Youtuber Masak Jenglot Goreng Tepung, Apa Rasanya?
News 19 November 2019Wali Kota Dikritik, Datang ke Acara Publik Cuma Pakai Foto
News 13 Oktober 2019649 Orang Diamankan Polisi Usai Demo DPR
News 01 Oktober 2019Seperti Apa sih Fasilitas Hotel Untuk Isolasi
News 28 April 2020Pesona Bukit Bintang Tiga Rasa di Lombok
Food & Travel 12 Oktober 2019Nasi Bakar Isi Kepompong Ulat Jati
Food & Travel 04 Oktober 2019Habis Demo Terbitlah Sampah
News 01 Oktober 2019