
Foto: instagram.com/diskominfo.mckalselprov
Kehadiran anak dalam suatu pernikahan memang menjadi salah satu hal yang paling ditunggu. Apalagi tidak semua pasangan akan langsung dianugerahi seorang anak begitu melangsungkan pernikahan. Kehadiran seorang anak di tengah-tengah mereka sungguh dinanti-nantikan, bahkan tidak jarang dengan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit jumlahnya demi dianugerahi buah hati.
Maka dari itu, jika sudah mendapat rezeki dengan kehadiran anak, orangtua akan melakukan berbagai macam acara khusus untuk menyambutnya. Entah itu hanya sebagai acara syukuran, melaksanakan aqiqah, atau jika dalam tradisi masyarakat suku Banjar, mengikutsertakan buah hati mereka dalam acara Baayun Maulud.

Foto: instagram.com/galeribanjarmasin
Sebenarnya tidak ada syarat khusus untuk mengikuti acara ini. Siapa saja boleh mendaftarkan anak mereka dan tidak diwajibkan bagi seluruh anak suku Banjar. Bagi yang hendak berpartisipasi, harus menyerahkan syarat upacara berupa piduduk. Piduduk ini berupa 3,5 liter beras, 1 gula merah, garam untuk anak laki-laki, dan sedikit garam ditambah minyak goreng untuk anak perempuan.
Baayun maulud berasal dari bahasa Banjar, yaitu Baayun yang artinya ayunan, serta Maulud yang berarti maulid atau hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Sehingga jika diterjemahkan, Baayun Maulud berarti kegiatan mengayun anak di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan yang dilakukan dalam baayun maulud ini yaitu mengayun anak-anak sambil membacakan syair Maulid. Pada umumnya, kegiatan ini dilaksanakan 12 Rabiul Awal, bertepatan pada saat Maulid Nabi Muhammad SAW.

Foto: instagram.com/polres_banjarbaru
Dalam pelaksanaannya, Baayun Maulud menggunakan kain sarung wanita atau yang biasa disebut tapih bahalai. Kemudian, dua ujungnya diikat. Kain ini terdiri dari tiga lapis, dimana kain teratasnya adalah kain sasirangan.
Selain itu, ayunannya dihias sedemikian rupa dengan daun pohon nipah, pohon kelapa, buah pisang, dan berbagai macam kue tradisional seperti kue cucur dan kue cincin.
Sebenarnya tradisi ini sudah ada bahkan sebelum agama Islam masuk ke Kalimantan Selatan. Akan tetapi, begitu agama Islam masuk, tradisi ini sedikit dimasukkan unsur keagamaan. Sehingga terjadilah perpaduan antara budaya Islam dan kepercayaan nenek moyang.
Meski Baayun Maulud dilaksanakan di berbagai tempat, konon tradisi ini bermula di Kabupaten Tapin yang kemudian terus berkembang hingga dilaksanakan di seluruh daerah di Kalimantan Selatan.
Foto: instagram.com/polres_banjarbaru
Maka dari itu, jika sudah mendapat rezeki dengan kehadiran anak, orangtua akan melakukan berbagai macam acara khusus untuk menyambutnya. Entah itu hanya sebagai acara syukuran, melaksanakan aqiqah, atau jika dalam tradisi masyarakat suku Banjar, mengikutsertakan buah hati mereka dalam acara Baayun Maulud.

Foto: instagram.com/galeribanjarmasin
Sebenarnya tidak ada syarat khusus untuk mengikuti acara ini. Siapa saja boleh mendaftarkan anak mereka dan tidak diwajibkan bagi seluruh anak suku Banjar. Bagi yang hendak berpartisipasi, harus menyerahkan syarat upacara berupa piduduk. Piduduk ini berupa 3,5 liter beras, 1 gula merah, garam untuk anak laki-laki, dan sedikit garam ditambah minyak goreng untuk anak perempuan.
Baayun maulud berasal dari bahasa Banjar, yaitu Baayun yang artinya ayunan, serta Maulud yang berarti maulid atau hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Sehingga jika diterjemahkan, Baayun Maulud berarti kegiatan mengayun anak di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan yang dilakukan dalam baayun maulud ini yaitu mengayun anak-anak sambil membacakan syair Maulid. Pada umumnya, kegiatan ini dilaksanakan 12 Rabiul Awal, bertepatan pada saat Maulid Nabi Muhammad SAW.

Foto: instagram.com/polres_banjarbaru
Dalam pelaksanaannya, Baayun Maulud menggunakan kain sarung wanita atau yang biasa disebut tapih bahalai. Kemudian, dua ujungnya diikat. Kain ini terdiri dari tiga lapis, dimana kain teratasnya adalah kain sasirangan.
Selain itu, ayunannya dihias sedemikian rupa dengan daun pohon nipah, pohon kelapa, buah pisang, dan berbagai macam kue tradisional seperti kue cucur dan kue cincin.
Sebenarnya tradisi ini sudah ada bahkan sebelum agama Islam masuk ke Kalimantan Selatan. Akan tetapi, begitu agama Islam masuk, tradisi ini sedikit dimasukkan unsur keagamaan. Sehingga terjadilah perpaduan antara budaya Islam dan kepercayaan nenek moyang.
Meski Baayun Maulud dilaksanakan di berbagai tempat, konon tradisi ini bermula di Kabupaten Tapin yang kemudian terus berkembang hingga dilaksanakan di seluruh daerah di Kalimantan Selatan.
Foto: instagram.com/polres_banjarbaru
Salah satu tempat yang paling sering melaksanakannya adalah di daerah Kuin Utara, Banjarmasin Utara. Tepatnya di salah satu masjid bersejarah di Banjarmasin yakni Masjid Sultan Suriansyah.
Jika Teman Brisik hendak mengetahui bagaimana ramainya pelaksanaan Baayun Maulud, dari pusat Kota Banjarmasin hanya perlu melakukan perjalanan darat sejauh kurang lebih 5 KM ke arah utara dan belok ke kiri usai menuruni sebuah jembatan.
Daerah yang baru saja dimasuki itu adalah Jalan Pangeran. Hanya perlu terus menelusurinya sekitar kurang dari 7 menit, Teman Brisik akan disambut oleh bangunan Masjid Sultan Suriansyah.
Tempat lain yang juga sering melaksanakan Baayun Maulud adalah Masjid Jami di Jalan Teluk Dalam, Banjarmasin dan Masjid Al-Mukarramah di Desa Banua Halat Kiri, Kabupaten Tapin.
Selain mereka yang telah memiliki anak, Baayun Maulud juga kerap dihadiri oleh kaum ibu yang telah lama menikah namun belum dikaruniai keturunan. Dengan menghadiri Baayun Maulud ini, mereka berharap dapat segera memiliki keturunan dan mengikuti Baayun Maulud di tahun berikutnya.
Jika Teman Brisik hendak mengetahui bagaimana ramainya pelaksanaan Baayun Maulud, dari pusat Kota Banjarmasin hanya perlu melakukan perjalanan darat sejauh kurang lebih 5 KM ke arah utara dan belok ke kiri usai menuruni sebuah jembatan.
Daerah yang baru saja dimasuki itu adalah Jalan Pangeran. Hanya perlu terus menelusurinya sekitar kurang dari 7 menit, Teman Brisik akan disambut oleh bangunan Masjid Sultan Suriansyah.
Tempat lain yang juga sering melaksanakan Baayun Maulud adalah Masjid Jami di Jalan Teluk Dalam, Banjarmasin dan Masjid Al-Mukarramah di Desa Banua Halat Kiri, Kabupaten Tapin.
Selain mereka yang telah memiliki anak, Baayun Maulud juga kerap dihadiri oleh kaum ibu yang telah lama menikah namun belum dikaruniai keturunan. Dengan menghadiri Baayun Maulud ini, mereka berharap dapat segera memiliki keturunan dan mengikuti Baayun Maulud di tahun berikutnya.
Artikel ini ditulis oleh Tirameashu
Berita Terkait
Soto Ayam Surabaya Juga Ada di Banjarmasin
Food & Travel 10 November 2020Menyelami Kebudayaan Suku Sasak di Desa Sade
Food & Travel 09 November 2020Sejuk dan Tenangnya Curug Balokang di Banjar Patroman
Food & Travel 09 November 2020Ote–Ote Juga Jadi Favorit Warga Banjarmasin
Food & Travel 09 November 2020Besarnya Roti Big John Bikin Kekenyangan
Food & Travel 08 November 2020Mengunjungi Cadas Gantung Dijamin Tidak Kecewa
Food & Travel 06 November 2020
Terbaru
Warung Gubeng Pojok, Kedai Nostalgia Para Penumpang KA
Food & Travel 15 November 2020Kuta Mandalika, Pantai Kuta-nya Pulau Lombok
Food & Travel 15 November 2020Jogja Gallery, Surganya Seni dan Budaya
Food & Travel 15 November 2020Se’i Sapi, Daging Asap yang Bikin Moo-Moo Lagi
Food & Travel 15 November 2020Coffee Nineteen, Angkringan atau Kafe?
Food & Travel 14 November 2020Kepiting Dari Alaska Ada di Jakarta
Food & Travel 14 November 2020Bakso Kabut, Telurnya Ada di Luar
Food & Travel 14 November 2020Candi Pringapus dan Danau yang Tak Pernah Kering
Food & Travel 13 November 2020
Berita Video
Popular Tags
Trending
Berburu Mainan di Jakarta Toys & Comics Fair 2020
News 29 Februari 2020Youtuber Masak Jenglot Goreng Tepung, Apa Rasanya?
News 19 November 2019Wali Kota Dikritik, Datang ke Acara Publik Cuma Pakai Foto
News 13 Oktober 2019649 Orang Diamankan Polisi Usai Demo DPR
News 01 Oktober 2019Seperti Apa sih Fasilitas Hotel Untuk Isolasi
News 28 April 2020Pesona Bukit Bintang Tiga Rasa di Lombok
Food & Travel 12 Oktober 2019Nasi Bakar Isi Kepompong Ulat Jati
Food & Travel 04 Oktober 2019Habis Demo Terbitlah Sampah
News 01 Oktober 2019