Budaya Palang Pintu Betawi di Tangerang Selatan

Budaya & Gaya Hidup 15 September 2020

Foto: instagram.com/yusufoncom

Kayu gelondongan kayu cendane
Pagernye kawat tulang nya besi
Abang ame rombongan darimane mau kemane
Dateng kemari kudu permisi
 
Bang umpame ibu seorang keramat
Kalo ngomong abang jangan nyakitin ati
Bang saya bersama tamu dateng dengan segala hormat
Tolong abang terime dengan senang hati
 
Begitulah lihainya percakapan antara dua orang yang sedang berbalas pantun. Suasana ini sudah sangat familiar di kalangan warga Tangerang Selatan (Tangsel). Keluarga pihak laki-laki diarak untuk pergi meminang mempelai perempuan, diramaikan dengan suara letusan petasan, properti kembang kelapa, ondel-ondel dan seserahan berupa roti buaya. Ya, begitulah suasana acara adat yang dinamakan Palang Pintu.

Apakah Palang Pintu adat asli Tangsel? Tentu saja bukan, masuknya adat suku Betawi ke kota Tangsel merupakan hal yang sudah diketahui banyak masyarakatnya. Karena letaknya bersebelahan dengan Jakarta, tradisi Palang Pintu sering diadakan di setiap acara pernikahan masyarakat sekitar kota Tangsel. Bahkan bagi yang bukan berasal dari suku Betawi pun juga bisa menggunakan adat istiadat ini. Maka dari itu, budaya Palang Pintu sering disebut sebagai seni tradisional kota Tangsel.

Palang Pintu sebenarnya merupakan tradisi asli masyarakat Betawi. Tradisi ini terdiri dari bermacam rangkaian, yaitu pencak silat, berbalas pantun, dan mengaji. Selain acara pernikahan, tradisi ini juga dipakai untuk acara penyambutan tokoh publik/tamu kehormatan dan hiburan.


Foto: instagram.com/jalan_tangan_betawi_muda

Sejarah Palang Pintu
Berdasarkan banyak sumber, tradisi Palang Pintu ini sudah ada sejak zaman nenek moyang, namun belum ada yang menyebutkan waktu tepatnya. Palang yang memiliki arti penghalang dan pintu merupakan akses masuk ke suatu wilayah. Jadi, Palang Pintu adalah penghalang untuk memasuki ke sebuah wilayah tertentu.

Wilayah di sini dimaksudkan untuk wilayah keluarga Betawi atau mempelai perempuan. Sehingga siapapun yang akan memasuki atau datang untuk meminang sang mempelai perempuan harus bisa melewati ujian tertentu untuk menunjukkan kemampuan sang mempelai laki-laki. Karena itu tradisi ini juga menyimbolkan ujian yang dihadapi mempelai laki-laki saat meminang mempelai perempuan.

Palang Pintu yang merupakan adat asli Betawi ini, dulunya hanya dipakai oleh orang-orang kaya. Karena untuk mengadakan seluruh rangkaian memerlukan dana yang cukup besar, seperti alat musik, membayar para penampilnya yang terdiri dari minimal 12 orang dan keperluan lainnya.


Foto: bekasikota.go.id

Makna Setiap Rangkaian Palang Pintu
Pada dasarnya, Palang Pintu dibagi menjadi empat inti acara, yaitu shalawat dustur, berbalas pantun, pencak silat dan lantun sike/mengaji. Setiap rangkaian memiliki filosofi tersendiri. Pertama diawali dengan sambutan dari pihak laki-laki berupa salam dan shalawat dustur, kemudian akan dilanjutkan balas pantun yang dimainkan oleh satu perwakilan dari masing-masing keluarga perempuan dan laki-laki.

Pantun ini biasanya mengandung humor yang bertujuan untuk menghidupkan dan mencairkan suasana pada saat acara berlangsung. Balas pantun di sini memiliki makna bahwa sang suami bertanggung jawab untuk membahagiakan istri dan anaknya kelak.

Setelah dibuka dengan balas pantun, lalu dua orang pesilat dari masing-masing pihak akan masuk. Pesilat ini biasa disebut sebagai jawara. Tak jarang juga aksi silat ini dilengkapi dengan sedikit pantun dan aksi jenaka dari kedua jawara.

Aturannya, aksi silat harus dimenangkan oleh pihak laki-laki. Jika tidak, maka pasangan tidak boleh menikah. Bahkan jika mempelai pria menguasai teknik silat, mempelai laki-laki itu sendiri yang akan melawan jawara dari pihak perempuan. Pencak silat yang ditampilkan dalam palang pintu melambangkan bahwa seorang suami harus bisa melindungi keluarganya dari gangguan.

Rangkaian yang terakhir adalah shalawat dengan lantun sike/mengaji. Biasanya terdiri dari satu orang pelantun. Proses ini melambangkan bahwa seorang suami harus bisa menjadi tuntunan bagi istri dan anak-anaknya.

Tradisi Palang Pintu biasanya diiringi dengan alunan musik pencak. Musik pencak terdiri dari beberapa alat musik, yaitu gendang pencak, gendang dua set, kecrek, kempu dan kemong.

Kostum yang digunakan oleh para penampilnya yaitu baju adat Betawi sehari-hari berupa baju koko (sadariah) dan celana panjang. Selain itu dilengkapi dengan peci hitam dan sarung yang ditaruh di pundak. Sedangkan pesilat menggunakan baju silat atau pangsi Betawi, biasanya berwarna merah, hitam, hijau atau kuning.

Tags : budaya hiburan pernikahan adat istiadat lifestyle

Artikel ini ditulis oleh :

Afa Najmi Layalia
  

Ranking Level

BadgeNameKeterangan
Bronze 11-14 artikel
Bronze 215-30 artikel
Bronze 331-45 artikel
Bronze 445-60 artikel
Bronze 561-75 artikel
Silver 176-125 artikel
Silver 2126-175 artikel
Silver 3176-225 artikel
Silver 4226-275 artikel
Silver 5276-325 artikel
Gold 1326-400 artikel
Gold 2401-475 artikel
Gold 3476-550 artikel
Gold 4551-625 artikel
Gold 5626-700 artikel
Platinum 1701-800 artikel
Platinum 2801-900 artikel
Platinum 3901-1000 artikel
Platinum 41001-1100 artikel
Platinum 51101-1200 artikel
Diamond 11201-1350 artikel
Diamond 21351-1500 artikel
Diamond 31501-1650 artikel
Diamond 41651-1800 artikel
Diamond 5> 1800

Tangerang {[{followers}]} Followers



Berita Terkait

Travel

Vihara Amurva Bhumi Jatinegara, Tertua di Jakarta Timur

Vihara terbuka bagi siapa pun yang ingin berkunjung walau hanya ingin melihatnya saja.

17 Sep 2021

News

Pameran Seni Rupa ‘0W4H 61N651R’ Sebagai Tanda Peresmian Leman Art House

Pameran ini menjadi event pertama yang dilakukan di Leman Art House dengan melibatkan 22 pelukis profesional dari Yogyakarta yang sudah memiliki prestasi nasional maupun internasional.

15 Sep 2021

Budaya & Gaya Hidup

Cucuk Lampah, Simbol Tolak Bala Dalam Pernikahan Adat Jawa

Cucuk Lampah merupakan salah satu tradisi yang ada di dalam pernikahan adat Jawa.

15 Sep 2021

Kamu Mungkin Tertarik

News

Anak Hilang di Gunung, Ibu Ini Sholat dan Berdoa di Hutan

Pencarian sudah dihentikan tapi sosok sang anak belum juga diketahui keberadaannya.

16 Januari 2020

Travel

Wisata Desa Melikan, Surga Bagi Pemburu Gerabah

Mayoritas warga di desa ini memiliki keahlian dan keterampilan membuat gerabah menggunakan bahan baku tanah liat.

24 Juni 2020

Kuliner

Sensasi Baru Makan Burger di Haup Burger

Inovasi burger masa kini berbentuk kotak.

23 Februari 2021

Travel

Ada Fasilitas Panjat Dinding di Taman Tirto Agung Banyumanik

Bebas digunakan untuk publik, gratis.

26 Januari 2021

Kuliner

Berburu Kopi di Lemahputih

Sambil menikmati kesejukan dan pemandangan menawan.

16 Januari 2020

Terbaru

more

Travel

Jember Mini Zoo, Kebun Binatang Mini di Tengah Kota

Tak perlu capek-capek di perjalanan dan hemat ongkos perjalanan.

18 September 2021

Travel

Permata Bukit Kendeng, Permata di Kota Kendal

Gardu pandang yang menawarkan pemandangan pesona alam Kabupaten Kendal.

18 September 2021

Kuliner

Paratamu Coffee Siap Menyambut Kehadiranmu

Kedai kopi terasa teduh karena pepohonan hijau yang tumbuh di sekitar lokasi.

18 September 2021

Travel

Masjid Besar Hizbullah Singosari, Basis Perjuangan Santri Merebut Kemerdekaan Indonesia

Masjid Besar Hizbullah didirikan pada 1907 di atas tanah wakaf milik KH Maksum.

18 September 2021

Travel

Kampoeng Jelok Menghadirkan Nuansa Kampung Lawas yang Autentik

Merasakan Jogja yang sebenarnya.

18 September 2021

Berita Video

more