Penyebaran Corona dan Tradisi Makan Hewan Liar

Lifestyle 19 Februari 2020

china liar hewan corona virus

Foto: nationalgeographic.com


Selama dua minggu terakhir, polisi China telah menggerebek rumah, restoran, dan pasar di seluruh negeri, menangkap hampir 700 orang karena melanggar larangan dalam menangkap, menjual, atau memakan hewan liar.

Dari penggerebekan itu terkumpul sekitar 40.000 hewan termasuk tupai, musang dan babi hutan, menunjukkan bahwa selera masyarakat China untuk makan satwa liar dan menggunakan bagian-bagian hewan untuk tujuan pengobatan tidak mungkin hilang dalam waktu singkat, meskipun berpotensi terkait dengan virus corona.

Para pedagang yang menjual keledai, anjing, rusa, buaya, dan daging lainnya berencana untuk berdagang kembali ke bisnis begitu pasar dibuka kembali.

″Orang-orang suka membeli satwa liar. Mereka membeli untuk dimakan sendiri atau diberikan sebagai hadiah,″ kata salah seorang pedagang hewan liar.

Para ilmuwan menduga, meski belum terbukti, bahwa Corona ditularkan ke manusia dari kelelawar melalui trenggiling, yang sisiknya banyak digunakan dalam pengobatan tradisional China.

trenggiling
Sumber foto:theepochtimes.com

Beberapa infeksi paling awal ditemukan pada orang-orang yang terpapar ke pasar makanan laut di Wuhan, di mana kelelawar, ular, musang dan satwa liar lainnya dijual.

Meski pemerintah China untuk sementara waktu menutup semua pasar tersebut pada Januari, itu mungkin tidak cukup untuk mengubah selera atau kebiasaan yang berakar pada budaya dan sejarah negara tersebut.

"Di mata banyak orang, hewan hidup untuk manusia, bukan untuk berbagi bumi dengan manusia,” kata Wang Song, seorang pensiunan peneliti Zoologi di Chinese Academy of Sciences.



Memicu Perdebatan
Wabah virus corona menghidupkan kembali perdebatan tentang penggunaan satwa liar untuk makanan dan obat-obatan. Pada tahun 2003 selama penyebaran SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), ilmuwan meyakini penularan ke manusia berasal dari kelelawar, melalui musang.

Banyak akademisi, pencinta lingkungan, dan penduduk di China telah bergabung dengan kelompok konservasi internasional dalam menyerukan larangan permanen perdagangan satwa liar dan penutupan pasar di mana hewan liar dijual. Anak-anak muda di China juga mendukung larangan permanen.

″Satu kebiasaan buruk adalah kita makan apa pun. Kita harus berhenti makan satwa liar dan mereka yang melakukannya harus dijatuhi hukuman penjara,″ kata seorang komentator di forum diskusi berita Sina.

Namun demikian, sebagian kecil orang China masih suka makan hewan liar dengan keyakinan bahwa itu sehat.

″Menolak hewan liar untuk dimakan sebagai makanan, sama seperti menolak makan″.

Produk-produk hewani, mulai dari empedu beruang hingga sisik trenggiling, masih digunakan dalam beberapa pengobatan tradisional China. PBB memperkirakan perdagangan ilegal satwa liar global bernilai sekitar US$ 23 miliar per tahun. Sejauh ini China adalah pasar terbesar, kata kelompok lingkungan.
Environmental Investigation Agency (EIA), sebuah organisasi independen yang berbasis di London.

china liar hewan corona virus

Berita Terkait

Berita Video