
Foto: surabaya.go.id
Menurut pakar sejarah, Surabaya yang memiliki julukan Kota Pahlawan ini sudah menjadi kota penting bahkan sebelum era kolonial. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peninggalan bersejarah.
Salah satu peninggalan cagar budaya yang juga menjadi destinasi wisata di kota ini adalah Kampung Ketandan. Kampung ini memiliki nuansa historis dan corak Tempoe Doeloe yang masih cukup kental dan terjaga kelestariannya hingga kini.
Foto: finroll.com
Kampun Ketandan berlokasi di Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya. Lokasinya berada di pusat kota dan mudah untuk diakses. Bila ingin berkunjung, disarankan melalui Jalan Tunjungan atau Jalan Gemblongan, kemudian cukup masuk melalui sebuah gang kecil yang memiliki alamat lengkap Jl. Ketandan Baru Gang 1.
Selain itu, kampung ini mudah dikenali adalah pada bagian depan pintu gang terdapat beragam mural bernuansa Surabaya Tempo Dulu yang khas.
Kampung ketandan sendiri memiliki beragam keunikan yang ditampilkan sebagai daya tarik wisata. Selain beberapa rumah penduduk yang masih mempertahankan ornamen dan gaya khas kolonial atau jawa era abad ke-19 hingga awal abad ke-20, di sini terdapat sebuah masjid lama yakni Masjid An-Nur yang dibangun pada tahun 1915. Dahulu sebelum dipugar, bangunan masjid hanyalah sebuah langgar kecil dengan nuansa khas kolonial.
Foto: surabaya.go.id
Di kampung ini juga terdapat sebuah makam kuno yang berada di dalam area perkampungan. Orang-orang mengenal makam ini sebagai Makam Mbah Buyut Tondo. Keberadaannya sudah ada jauh sebelum pemukiman berada.
Wujud makam ini terbilang cukup sederhana seperti makam lama pada umumnya. Namun di dekat areal makam berdiri pohon beringin besar yang menambah kesan kuno sekaligus horor. Keberadaan pohon itu juga tidak menghilangkan kesan unik dari kampung ini. Bahkan dekat areal makam sering dijadikan spot berfoto ria bagi sebagian pengunjung.
Di tahun 2016 terdapat bangunan baru yang menjadi daya tarik Kampung Ketandan. Bangunan itu dibangun oleh warga setempat bekerja sama dengan United Cities Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC). Bangunan kemudian diresmikan dan diberi nama Joglo Cak Markeso.
Bangunan joglo ini digunakan warga untuk kegiatan diskusi membahas kebudayaan, sejarah, hingga lingkungan. Selain itu, bila ada peringatan acara nasional seperti Hari Pahlawan atau Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, joglo ini juga dimanfaatkan sebagai tempat sarana event-event tertentu seperti pemutaran film, pameran, diskusi publik dan acara lainnya.
Foto: surabaya.go.id
Meski berada diantara gedung dan bangunan modern, kampung ini tetap mempertahankan ciri khas sebagai kampung lawas. Tak heran suasananya cukup dan kerap dijadikan tempat untuk berburu foto, termasuk foto pre-wedding. Selain itu, tak jarang kampung ini dijadikan tempat peliputan tentang budaya ataupun film dokumenter.
Bila lapar melanda saat berkeliling di Kampung Ketandan, Anda tidak perlu khawatir karena sejumlah warga menjual beberapa jenis makanan mulai dari jajanan pasar hingga makanan berat seperti nasi pecel, lontong, mie, dan bakso.
Sementara itu, penginapan dekat dengan Kampung Ketandan adalah MaxOne Hotel yang mematok harga mulai Rp200.000 per malam. Ada juga Hotel 88 bertarif mulai Rp230.000 per malam.
Salah satu peninggalan cagar budaya yang juga menjadi destinasi wisata di kota ini adalah Kampung Ketandan. Kampung ini memiliki nuansa historis dan corak Tempoe Doeloe yang masih cukup kental dan terjaga kelestariannya hingga kini.
Foto: finroll.com
Kampun Ketandan berlokasi di Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya. Lokasinya berada di pusat kota dan mudah untuk diakses. Bila ingin berkunjung, disarankan melalui Jalan Tunjungan atau Jalan Gemblongan, kemudian cukup masuk melalui sebuah gang kecil yang memiliki alamat lengkap Jl. Ketandan Baru Gang 1.
Selain itu, kampung ini mudah dikenali adalah pada bagian depan pintu gang terdapat beragam mural bernuansa Surabaya Tempo Dulu yang khas.
Kampung ketandan sendiri memiliki beragam keunikan yang ditampilkan sebagai daya tarik wisata. Selain beberapa rumah penduduk yang masih mempertahankan ornamen dan gaya khas kolonial atau jawa era abad ke-19 hingga awal abad ke-20, di sini terdapat sebuah masjid lama yakni Masjid An-Nur yang dibangun pada tahun 1915. Dahulu sebelum dipugar, bangunan masjid hanyalah sebuah langgar kecil dengan nuansa khas kolonial.
Foto: surabaya.go.id
Di kampung ini juga terdapat sebuah makam kuno yang berada di dalam area perkampungan. Orang-orang mengenal makam ini sebagai Makam Mbah Buyut Tondo. Keberadaannya sudah ada jauh sebelum pemukiman berada.
Wujud makam ini terbilang cukup sederhana seperti makam lama pada umumnya. Namun di dekat areal makam berdiri pohon beringin besar yang menambah kesan kuno sekaligus horor. Keberadaan pohon itu juga tidak menghilangkan kesan unik dari kampung ini. Bahkan dekat areal makam sering dijadikan spot berfoto ria bagi sebagian pengunjung.
Di tahun 2016 terdapat bangunan baru yang menjadi daya tarik Kampung Ketandan. Bangunan itu dibangun oleh warga setempat bekerja sama dengan United Cities Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC). Bangunan kemudian diresmikan dan diberi nama Joglo Cak Markeso.
Bangunan joglo ini digunakan warga untuk kegiatan diskusi membahas kebudayaan, sejarah, hingga lingkungan. Selain itu, bila ada peringatan acara nasional seperti Hari Pahlawan atau Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, joglo ini juga dimanfaatkan sebagai tempat sarana event-event tertentu seperti pemutaran film, pameran, diskusi publik dan acara lainnya.
Foto: surabaya.go.id
Meski berada diantara gedung dan bangunan modern, kampung ini tetap mempertahankan ciri khas sebagai kampung lawas. Tak heran suasananya cukup dan kerap dijadikan tempat untuk berburu foto, termasuk foto pre-wedding. Selain itu, tak jarang kampung ini dijadikan tempat peliputan tentang budaya ataupun film dokumenter.
Bila lapar melanda saat berkeliling di Kampung Ketandan, Anda tidak perlu khawatir karena sejumlah warga menjual beberapa jenis makanan mulai dari jajanan pasar hingga makanan berat seperti nasi pecel, lontong, mie, dan bakso.
Sementara itu, penginapan dekat dengan Kampung Ketandan adalah MaxOne Hotel yang mematok harga mulai Rp200.000 per malam. Ada juga Hotel 88 bertarif mulai Rp230.000 per malam.
Artikel ini ditulis oleh Zahir
Berita Terkait
Panorama Tebing Berundak Curug Onje Temanggung
Food & Travel 28 Oktober 2020Penny Lane Bali, Restaurant Bergaya Klasik - Modern
Food & Travel 27 Oktober 2020Klenteng Hok an kiong, Rumah Peribadatan Tiga Agama
Food & Travel 26 Oktober 2020
Terbaru
Kemping Cantik Di Tengah Hutan Di Sukabumi
Food & Travel 29 Oktober 2020Menikmati Sirup Kawista, Kesegarannya Setara Cola
Food & Travel 29 Oktober 2020Menyeruput Segarnya Es Krim Angi Pontianak
Food & Travel 29 Oktober 2020Kopi Kila, Kedai Kopi Tersembunyi di Bekasi
Food & Travel 29 Oktober 2020Menu Barbar di Nasi Mercon Cak Nar
Food & Travel 29 Oktober 2020Menyaksikan Surga Hutan Pinus dari Watu Layah
Food & Travel 28 Oktober 2020Menemukan Ketenangan di Pantai Cemara
Food & Travel 28 Oktober 2020Nuansa Kolonial di Jalan Bubutan Surabaya
Food & Travel 28 Oktober 2020Tenggelam Dalam Keindahan Pantai Tanjung Beloam
Food & Travel 28 Oktober 2020
Berita Video
Popular Tags
Trending
Berburu Mainan di Jakarta Toys & Comics Fair 2020
News 29 Februari 2020Youtuber Masak Jenglot Goreng Tepung, Apa Rasanya?
News 19 November 2019Wali Kota Dikritik, Datang ke Acara Publik Cuma Pakai Foto
News 13 Oktober 2019649 Orang Diamankan Polisi Usai Demo DPR
News 01 Oktober 2019Seperti Apa sih Fasilitas Hotel Untuk Isolasi
News 28 April 2020Pesona Bukit Bintang Tiga Rasa di Lombok
Food & Travel 12 Oktober 2019Nasi Bakar Isi Kepompong Ulat Jati
Food & Travel 04 Oktober 2019Habis Demo Terbitlah Sampah
News 01 Oktober 2019