
Foto: menpan.go.id/nyandran
Indonesia sebagai negara kesatuan mempunyai beragam etnis, suku dan agama. Keberagaman ini menjadikan Indonesia kaya akan budaya yang hidup di tengah masyarakat, yang terus berlangsung dari dulu hingga saat ini. Salah satu tradisi yang masih dilakukan adalah "nyadran" oleh masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah.
Tradisi nyadran biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah pada tanggal ke-10 bulan Rajab atau saat menyambut datangnya bulan Ramadhan. Namun di beberapa wilayah Jawa Tengah, tradisi nyadran tidak selalu dilaksanakan menjelang Ramadhan. Ada juga yang melaksanakan pada bulan-bulan tertentu seperti Muharram.
Tradisi nyadran sendiri merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kata "nyadran" berasal dari kata "Sraddha" yang bermakna keyakinan. Tradisi ini sudah dilakukan masyarakat Jawa sejak zaman Hindu-Buddha. Dalam kepercayaan mereka, roh nenek moyang akan selalu hadir dan mempengaruhi kehidupan anak keturunannya.
Ketika Walisongo menyebarkan agama Islam dan Pribumisasi Islam pada abad ke-15. Tradisi nyadran mengalami "modifikasi". Tanpa menghilangkan tradisi masyarakat yang sudah melekat sejak dulu. Kegiatan yang biasa di isi dengan persembahan dan ritual untuk para leluhur diganti dengan doa, tahlil, dzikir dan makan bersama. Namun untuk tempat, tetap di makam-makam para leluhur tempat itu.
Foto : Antara Foto/Anis Efizudin
Kegiatan nyadran biasanya di isi dengan bersih-bersih makam, ziarah, juga membawa makanan tradisional untuk disantap bersama-sama. Dari mulai anak-anak, orang tua, kakek-nenek, terkadang diikuti oleh masyarakat yang non muslim. Sebab budaya tersebut bukanlah budaya orang Islam, tapi budaya masyarakat Jawa untuk mengenal leluhur mereka.
Dalam perkembangan zaman yang semakin modern, upacara tradisi seperti nyadran adalah hal yang patut untuk dilestarikan dan dipertahankan. Supaya tidak ditinggalkan oleh generasi selanjutnya, lalu hilang begitu saja.
Upacara tradisi nyadran mempunyai makna yang begitu erat dengan kehidupan masyarakat. Gotong royong, saling mengasihi, menjaga kebersihan dan melestarikan budaya. Di tambah dengan agenda tahlil, doa bersama, dan kenduri. yang sebetulnya representative dari penerapan nilai Pancasila yang adiluhung.
Misalnya Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Pada kegiatan nyadran, tahlilan termasuk agenda yang selalu dilakukan. Di antara pembacaan tahlil tersebut biasanya membaca surat al-Ikhlas yang biasa di bacakan minimal tiga kali.
Sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Selain membaca tahlil dan doa bersama, kegiatan nyadran juga selalu melibatkan seluruh elemen masyarakat dengan pola duduk bersama dengan alas tikar, daun pisang atau apa saja yang bisa di tempati. Baik yang muda, yang tua, tokoh, dan seluruh masyarakat yang hadir.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Tidak dibeda-bedakan, baik itu yang berprofesi sebagai petani, pedagang, pengusaha, pelajar, pejabat, tokoh, dan seluruh masyarakat yang hadir bersama untuk mengikuti kegiatan nyadran. Semuanya bersatu padu untuk menghormati leluhur, mendoakan dan mengharap keberkahan.
Sila keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan, Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Biasanya, kegiatan nyadran akan dipimpin oleh seorang Tokoh di daerah tersebut. Dengan kesepakatan hasil musyawarah masyarakat setempat, mewakili seluruh masyarakat yang hadir untuk memimpin pelaksanaan tradisi nyadran. hal tersebut merupakan Demokrasi pada lapisan yang paling kecil.
Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Selain tahlil, doa bersama, dan dzikir. Kegiatan lain yang dilakukan adalah makan bersama. Seluruh masyarakat yang hadir akan menyantap makanan yang sudah disediakan, biasanya beralas daun pisang ( ngampar ). Dengan lauk pauk yang bermacam-macam, di satukan, dicampurkan. Tidak boleh ada yang tidak kebagian, tidak dibeda-bedakan.

Foto : Bincangsyariah.com
Tradisi nyadran mengandung nilai spiritual yang tinggi. Sebagai pengingat bahwa manusia tidak ada daya dan upaya setelah meninggal, juga mengingatkan diri bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan hina, berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Tidak ada yang patut untuk di sombongkan. Selain itu, Nyadran bisa menjadi sarana untuk saling mempererat tali persaudaraan di antara masyarakat.
Tradisi seperti Nyadran harus terus dilaksanakan dari generasi ke generasi, sebagai bentuk penghormatan, mendoakan mereka yang sudah meninggal, dan untuk membangun budaya spiritual pada masyarakat. Serta bentuk kecil dalam mengimplementasikan nila-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Artikel ini ditulis oleh Sayyid
Berita Terkait
Dua Budaya Berdampingan di Menara Kudus
Food & Travel 01 Maret 2021Alas Trawas, Hadirkan Nuansa Ngopi di Tengah Hutan
Food & Travel 25 Februari 2021
Terbaru
Menepi ke Melipir Coffee & Space
Food & Travel 03 Maret 2021Rekreasi Gratis di Alun-Alun Kota Bekasi
Food & Travel 03 Maret 2021Jatuh Hati dengan Ayam Bakar Pak Biso
Food & Travel 03 Maret 2021Sejenak Menikmati Curug Maribaya
Food & Travel 03 Maret 2021
Berita Video
Popular Tags
Trending
Berburu Mainan di Jakarta Toys & Comics Fair 2020
News 29 Februari 2020Nongkrong Asyik di Sumur Moo Nyoo
Food & Travel 07 Oktober 2020Youtuber Masak Jenglot Goreng Tepung, Apa Rasanya?
News 19 November 2019Seperti Apa sih Fasilitas Hotel Untuk Isolasi
News 28 April 2020Pesona Bukit Bintang Tiga Rasa di Lombok
Food & Travel 12 Oktober 2019Nasi Bakar Isi Kepompong Ulat Jati
Food & Travel 04 Oktober 2019Mahasiswa Tuntut DPR Menunda RUU KUHP
News 20 September 2019