
Foto: Brisik.id/ Rayhan Aulia Prakoso
Museum Brawijaya adalah salah satu tempat di mana jejak-jejak perang mempertahankan kemerdekaan masih terawat dengan baik. Museum yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 10.500 meter persegi itu menyimpan sejumlah benda, persenjataan, dan kendaraan tempur peninggalan Belanda dan Jepang. Sejumlah benda penting dari Operasi Trisula dan Operasi Seroja juga ada di museum ini.
Terletak di Jalan Besar Ijen, Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen, akses menuju museum ini amatlah mudah. Pengunjung dapat memesan jasa ojek online atau menumpang angkutan kota (angkot) bertrayek AL, ADL, GL, dan MK. Bagi yang membawa kendaraan pribadi, tersedia parkir yang cukup luas di sisi timur museum.
Beberapa hotel terdekat yang direkomendasikan untuk pengunjung antara lain Hotel Aria Gajayana di Jalan Kawi (sisi timur Mall Olympic Garden), Ijen Suites Resort & Convention di Perumahan Ijen Nirwana, dan Whiz Prime Hotel di Jalan Basuki Rahmat. Tarif per malamnya mulai Rp380.000 untuk Hotel Aria Gajayana, Rp400.000 untuk Ijen Suites, dan Rp285.000 untuk Whiz Prime Hotel.
Pengunjung Museum Brawijaya cukup membayar tiket masuk sebesar Rp5.000,00. Harga tersebut berlaku baik saat weekday maupun weekend. Pengunjung juga bisa membeli buku panduan seharga Rp10.000 di resepsionis saat membayar tiket masuk. Selain membayar tiket, pengunjung juga diharuskan mengisi buku tamu terlebih dulu sebelum mulai berkeliling.

Foto: Brisik.id/ Rayhan Aulia Prakoso
Saat datang ke Museum Brawijaya, pengunjung akan menjumpai tiga senjata berat anti pesawat dan sebuah tank di dekat pintu masuk. Ada juga sebuah kendaraan lapis baja di halaman museum, tepatnya di balik pagar. Kendaraan inilah yang dipakai tentara Belanda saat pertempuran melawan pasukan pelajar di Jalan Salak (sekarang Jalan Pahlawan TRIP).
Empat Ruang
Museum Brawijaya terbagi menjadi empat ruang, yaitu lobi, ruang pertama, ruang kedua, dan halaman tengah. Lobi merupakan ruang di mana pengunjung dapat menjumpai deretan foto Walikota Malang dan Pangdam Brawijaya dari masa ke masa.
Ruang pertama dan kedua memamerkan koleksi senjata dan aneka benda antik militer lainnya. Halaman tengah merupakan tempat pameran Gerbong Maut dan Perahu Segigir.
Ruang pertama berada di sisi kanan pintu masuk. Ruang ini memamerkan sejumlah persenjataan hasil rampasan dari Belanda dan Jepang, foto-foto dan dokumen lawas berkaitan dengan peristiwa menjelang dan sesudah kemerdekaan, serta perabotan bersejarah. Terdapat pula alat komunikasi semasa Agresi Militer kedua berupa replika burung merpati dan radio.
Masih di ruang pertama, terdapat mobil sedan lawas bermerek "DeSoto" buatan Amerika Serikat. Mobil ini merupakan mobil dinas Mayjen Sungkono semasa berpangkat Kolonel dan menjabat sebagai Panglima Divisi IV Narotama tahun 1948-1950.
Terdapat juga meja dan kursi yang pernah dipakai Panglima Besar Jenderal Soedirman sewaktu perang gerilya tahun 1948. Ada juga sofa dan meja yang merupakan saksi bisu perundingan damai antara Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, dan Amir Syarifuddin dengan Divisi India Pasukan Sekutu pada 29 Oktober 1945.

Foto: Brisik.id/ Rayhan Aulia Prakoso
Beranjak ke ruang kedua, pengunjung akan menjumpai deretan senjata, foto-foto lawas, dan benda-benda lainnya. Senjata-senjata yang dipamerkan di ruang kedua merupakan hasil rampasan dari Operasi Trisula, Operasi Pembebasan Irian Barat, dan Operasi Seroja.
Ada juga lima unit komputer lawas tipe 519. Selain itu, terdapat foto-foto dokumentasi Operasi Trisula di Blitar, Operasi Penumpasan PRRI/Permesta di Sulawesi Utara, dan dokumentasi kegiatan Kodam Brawijaya.

Foto: Brisik.id/ Rayhan Aulia Prakoso
Bagian halaman tengah memamerkan Gerbong Maut dan Perahu Segigir. Dari keduanya, Gerbong Maut-lah yang kerap menarik perhatian karena sejarah dan aura mistisnya. Gerbong ini merupakan salah satu dari tiga Gerbong Maut yang pernah dipakai penjajah Belanda ketika memindahkan para pejuang Indonesia yang tertangkap dari Penjara Bondowoso ke Penjara Bubutan, Surabaya. Perahu Segigir merupakan sampan yang pernah dipakai Komandan Resimen Joko Tole untuk menyeberang dari Prenduan, Sumenep menuju Paiton, Probolinggo.
Terletak di Jalan Besar Ijen, Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen, akses menuju museum ini amatlah mudah. Pengunjung dapat memesan jasa ojek online atau menumpang angkutan kota (angkot) bertrayek AL, ADL, GL, dan MK. Bagi yang membawa kendaraan pribadi, tersedia parkir yang cukup luas di sisi timur museum.
Beberapa hotel terdekat yang direkomendasikan untuk pengunjung antara lain Hotel Aria Gajayana di Jalan Kawi (sisi timur Mall Olympic Garden), Ijen Suites Resort & Convention di Perumahan Ijen Nirwana, dan Whiz Prime Hotel di Jalan Basuki Rahmat. Tarif per malamnya mulai Rp380.000 untuk Hotel Aria Gajayana, Rp400.000 untuk Ijen Suites, dan Rp285.000 untuk Whiz Prime Hotel.
Tempat makan yang dekat dengan Museum Brawijaya, selain food court di sisi selatan museum, adalah Rujak Manis Semeru, Marugame Udon, Ayam Goreng Pemuda, Ayam Goreng Tenes, My Kopi O!. Tiga tempat makan pertama berlokasi di Jalan Semeru, sedangkan Ayam Goreng Tenes dan My Kopi O! berlokasi di Jalan Tenes (sisi barat Stadion Gajayana).

Foto: Brisik.id/ Rayhan Aulia Prakoso
Museum Brawijaya didirikan pada tahun 1962 atas inisiatif Brigjen TNI (Purn) Soerachman, Pangdam Brawijaya periode 1959-1962. Dengan bantuan dana dari seorang pengusaha hotel di Tretes dan pemberian lahan oleh Pemerintah Kota Malang saat itu, pembangunan museum ini berlangsung dari tahun 1967 - 1968. Museum Brawijaya diresmikan penggunaannya pada 4 Mei 1968.

Foto: Brisik.id/ Rayhan Aulia Prakoso
Museum Brawijaya didirikan pada tahun 1962 atas inisiatif Brigjen TNI (Purn) Soerachman, Pangdam Brawijaya periode 1959-1962. Dengan bantuan dana dari seorang pengusaha hotel di Tretes dan pemberian lahan oleh Pemerintah Kota Malang saat itu, pembangunan museum ini berlangsung dari tahun 1967 - 1968. Museum Brawijaya diresmikan penggunaannya pada 4 Mei 1968.
Pengunjung Museum Brawijaya cukup membayar tiket masuk sebesar Rp5.000,00. Harga tersebut berlaku baik saat weekday maupun weekend. Pengunjung juga bisa membeli buku panduan seharga Rp10.000 di resepsionis saat membayar tiket masuk. Selain membayar tiket, pengunjung juga diharuskan mengisi buku tamu terlebih dulu sebelum mulai berkeliling.

Foto: Brisik.id/ Rayhan Aulia Prakoso
Saat datang ke Museum Brawijaya, pengunjung akan menjumpai tiga senjata berat anti pesawat dan sebuah tank di dekat pintu masuk. Ada juga sebuah kendaraan lapis baja di halaman museum, tepatnya di balik pagar. Kendaraan inilah yang dipakai tentara Belanda saat pertempuran melawan pasukan pelajar di Jalan Salak (sekarang Jalan Pahlawan TRIP).
Empat Ruang
Museum Brawijaya terbagi menjadi empat ruang, yaitu lobi, ruang pertama, ruang kedua, dan halaman tengah. Lobi merupakan ruang di mana pengunjung dapat menjumpai deretan foto Walikota Malang dan Pangdam Brawijaya dari masa ke masa.
Ruang pertama dan kedua memamerkan koleksi senjata dan aneka benda antik militer lainnya. Halaman tengah merupakan tempat pameran Gerbong Maut dan Perahu Segigir.
Ruang pertama berada di sisi kanan pintu masuk. Ruang ini memamerkan sejumlah persenjataan hasil rampasan dari Belanda dan Jepang, foto-foto dan dokumen lawas berkaitan dengan peristiwa menjelang dan sesudah kemerdekaan, serta perabotan bersejarah. Terdapat pula alat komunikasi semasa Agresi Militer kedua berupa replika burung merpati dan radio.
Terdapat juga meja dan kursi yang pernah dipakai Panglima Besar Jenderal Soedirman sewaktu perang gerilya tahun 1948. Ada juga sofa dan meja yang merupakan saksi bisu perundingan damai antara Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, dan Amir Syarifuddin dengan Divisi India Pasukan Sekutu pada 29 Oktober 1945.

Foto: Brisik.id/ Rayhan Aulia Prakoso
Beranjak ke ruang kedua, pengunjung akan menjumpai deretan senjata, foto-foto lawas, dan benda-benda lainnya. Senjata-senjata yang dipamerkan di ruang kedua merupakan hasil rampasan dari Operasi Trisula, Operasi Pembebasan Irian Barat, dan Operasi Seroja.
Ada juga lima unit komputer lawas tipe 519. Selain itu, terdapat foto-foto dokumentasi Operasi Trisula di Blitar, Operasi Penumpasan PRRI/Permesta di Sulawesi Utara, dan dokumentasi kegiatan Kodam Brawijaya.

Foto: Brisik.id/ Rayhan Aulia Prakoso
Bagian halaman tengah memamerkan Gerbong Maut dan Perahu Segigir. Dari keduanya, Gerbong Maut-lah yang kerap menarik perhatian karena sejarah dan aura mistisnya. Gerbong ini merupakan salah satu dari tiga Gerbong Maut yang pernah dipakai penjajah Belanda ketika memindahkan para pejuang Indonesia yang tertangkap dari Penjara Bondowoso ke Penjara Bubutan, Surabaya. Perahu Segigir merupakan sampan yang pernah dipakai Komandan Resimen Joko Tole untuk menyeberang dari Prenduan, Sumenep menuju Paiton, Probolinggo.
Artikel ini ditulis oleh Rayhan Aulia Prakoso
Berita Terkait
Sebuah Pulau Penuh Sejarah di Kota Palembang
Food & Travel 30 September 2020Nakoa, Cafe Paling Pas Buat Bersantai
Food & Travel 29 September 2020Jejak Majapahit di Situs Candi Pari Sidoarjo
Food & Travel 28 September 2020
Terbaru
Berperahu di Lembah Ulem-ulem
Food & Travel 02 Oktober 2020Limpahan Daging dalam Semangkuk Mie Sop H Siran
Food & Travel 02 Oktober 2020Senja dan Sejuta Cerita di Little A
Food & Travel 02 Oktober 2020Berani Hadapi Ganasnya Mi Ganas?
Food & Travel 02 Oktober 2020Di Lapar Mata, Tidak Mengenal Kata Kenyang
Food & Travel 02 Oktober 2020Pedas Gurih Ayam Panggang Bu Setu
Food & Travel 02 Oktober 2020
Berita Video
Popular Tags
Trending
Berburu Mainan di Jakarta Toys & Comics Fair 2020
News 29 Februari 2020Youtuber Masak Jenglot Goreng Tepung, Apa Rasanya?
News 19 November 2019Wali Kota Dikritik, Datang ke Acara Publik Cuma Pakai Foto
News 13 Oktober 2019649 Orang Diamankan Polisi Usai Demo DPR
News 01 Oktober 2019Seperti Apa sih Fasilitas Hotel Untuk Isolasi
News 28 April 2020Pesona Bukit Bintang Tiga Rasa di Lombok
Food & Travel 12 Oktober 2019Nasi Bakar Isi Kepompong Ulat Jati
Food & Travel 04 Oktober 2019Habis Demo Terbitlah Sampah
News 01 Oktober 2019