
Foto: surabaya.go.id
Salah satu wisata yang ditawarkan di kota yang memiliki julukan Kota Pahlawan ini adalah wisata sejarah. Tidak heran karena kota ini sejak zaman dahulu merupakan kota yang sangat penting terutama pada masa kolonial Belanda. Berbagai peninggalan sejarah tersebut tersebar di sudut-sudut kota ini ada yang dapat dilihat di jalan-jalan berupa gedung-gedung tua atau bangunan lama, ada pula yang tersimpan rapi di dalam museum.
Berbicara mengenai museum, ada salah satu museum di kota Surabaya yang cukup jarang diketahui oleh masyarakat awam. Bahkan tidak semua warga Surabaya mengetahui keberadaannya. Museum yang dimaksud adalah Museum Dr. Soetomo. Museum ini memiliki beragam benda-benda koleksi yang sangat bernilai terutama dalam rekam jejak sejarah bangsa Indonesia.
Dr. Soetomo dikenal oleh berbagai kalangan sebagai pendiri organisasi nasional Boedi Oetomo. Pendirian organisasi tersebut juga diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei. Selain sebagai pendiri organisasi Boedi Oetomo, Dr. Soetomo semasa hidupnya juga dikenal sebagai seorang dokter yang sangat baik hati dan dermawan, hal ini karena semasa bertugas dia tidak pernah menarik tarif terhadap para pasiennya pada saat itu.
Museum ini sendiri terbagi atas sebuah gedung dengan dua lantai. Di lantai pertama para pengunjung akan disuguhi beragam karya tulisan yang mengisahkan perjuangan Dr. Soetomo semasa masa pergerakan. Di sini juga terdapat beragam foto dan alur silsilah keluarga Dr. Soetomo.
Di lantai dua mulai ditampilkan beragam koleksi yang digunakan oleh Dr. Soetomo selama masa tugasnya sebagai dokter di rumah sakit Simpang atau yang memiliki nama resmi CBZ (Central Burgelijke Ziekeninrichting). Selain itu juga ada benda-benda yang digunakan oleh Dr. Soetomo selama beliau melakukan aktivitasnya sehari-hari.
Salah satu barang koleksi yang menjadi ikon dari museum ini adalah jas praktik kedokteran yang biasa digunakan oleh Dr. Soetomo serta sebuah kursi kayu lengkap dengan mejanya yang dulu digunakan oleh Dr. Soetomo dalam berbincang-bincang dengan koleganya.
Sumber foto: surabaya.go.id
Museum ini juga memiliki beragam diorama lukisan dan foto yang menjelaskan peran Dr. Soetomo bersama organisasi Boedi Oetomo dalam memperjuangkan ideologi dan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Tidak jauh dari gedung museum terdapat tempat peristirahatan terakhir Dr. Soetomo. Beliau sendiri yang sebelum akhir hayatnya meminta untuk dimakamkan di sekitar komplek Gedung Nasional Indonesia (GNI).
Lokasi museum ini berada di dalam Komplek GNI, tepatnya berada di Jalan Jl. Bubutan No.85-87, Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya. Untuk menuju ke museum cukup mudah karena masih berada dalam satu wilayah dengan kota tua Surabaya, bahkan cukup dekat dengan Monumen Tugu Pahlawan.
Selain itu lokasinya yang berada di pinggir jalan raya juga memudahkan orang untuk menemukan lokasinya. Museum buka setiap hari mulai pukul 08.00 - 16.00 WIB, dan tidak dipungut biaya alias gratis.
Di sekitar gedung GNI sendiri juga terdapat beberapa rumah makan yang menjual beragam makanan mulai dari bakso, soto, serta beragam makanan lainnya. Harga yang ditawarkan juga cukup bervariasi yakni mulai Rp15.000 per porsi.
Untuk yang membutuhkan fasilitas penginapan di dekat museum juga terdapat beberapa hotel yang cukup direkomendasikan. Salah satunya yang cukup dekat dari museum adalah OYO 614 Graha 8 Syariah. Tarif menginap per malamnya mulai dari Rp170.000.
Pilihan menginap lainnya yang lebih murah akan tetapi jarak yang sedikit lebih jauh sekitar 2 km yakni di OYO 3449 Putri Garuda Hotel yang tarif per malamnya hanya Rp120.000.
Berbicara mengenai museum, ada salah satu museum di kota Surabaya yang cukup jarang diketahui oleh masyarakat awam. Bahkan tidak semua warga Surabaya mengetahui keberadaannya. Museum yang dimaksud adalah Museum Dr. Soetomo. Museum ini memiliki beragam benda-benda koleksi yang sangat bernilai terutama dalam rekam jejak sejarah bangsa Indonesia.
Dr. Soetomo dikenal oleh berbagai kalangan sebagai pendiri organisasi nasional Boedi Oetomo. Pendirian organisasi tersebut juga diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei. Selain sebagai pendiri organisasi Boedi Oetomo, Dr. Soetomo semasa hidupnya juga dikenal sebagai seorang dokter yang sangat baik hati dan dermawan, hal ini karena semasa bertugas dia tidak pernah menarik tarif terhadap para pasiennya pada saat itu.
Museum ini sendiri terbagi atas sebuah gedung dengan dua lantai. Di lantai pertama para pengunjung akan disuguhi beragam karya tulisan yang mengisahkan perjuangan Dr. Soetomo semasa masa pergerakan. Di sini juga terdapat beragam foto dan alur silsilah keluarga Dr. Soetomo.
Sumber foto: surabaya.go.id
Di lantai dua mulai ditampilkan beragam koleksi yang digunakan oleh Dr. Soetomo selama masa tugasnya sebagai dokter di rumah sakit Simpang atau yang memiliki nama resmi CBZ (Central Burgelijke Ziekeninrichting). Selain itu juga ada benda-benda yang digunakan oleh Dr. Soetomo selama beliau melakukan aktivitasnya sehari-hari.
Salah satu barang koleksi yang menjadi ikon dari museum ini adalah jas praktik kedokteran yang biasa digunakan oleh Dr. Soetomo serta sebuah kursi kayu lengkap dengan mejanya yang dulu digunakan oleh Dr. Soetomo dalam berbincang-bincang dengan koleganya.
Sumber foto: surabaya.go.id
Museum ini juga memiliki beragam diorama lukisan dan foto yang menjelaskan peran Dr. Soetomo bersama organisasi Boedi Oetomo dalam memperjuangkan ideologi dan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Tidak jauh dari gedung museum terdapat tempat peristirahatan terakhir Dr. Soetomo. Beliau sendiri yang sebelum akhir hayatnya meminta untuk dimakamkan di sekitar komplek Gedung Nasional Indonesia (GNI).
Lokasi museum ini berada di dalam Komplek GNI, tepatnya berada di Jalan Jl. Bubutan No.85-87, Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya. Untuk menuju ke museum cukup mudah karena masih berada dalam satu wilayah dengan kota tua Surabaya, bahkan cukup dekat dengan Monumen Tugu Pahlawan.
Selain itu lokasinya yang berada di pinggir jalan raya juga memudahkan orang untuk menemukan lokasinya. Museum buka setiap hari mulai pukul 08.00 - 16.00 WIB, dan tidak dipungut biaya alias gratis.
Di sekitar gedung GNI sendiri juga terdapat beberapa rumah makan yang menjual beragam makanan mulai dari bakso, soto, serta beragam makanan lainnya. Harga yang ditawarkan juga cukup bervariasi yakni mulai Rp15.000 per porsi.
Untuk yang membutuhkan fasilitas penginapan di dekat museum juga terdapat beberapa hotel yang cukup direkomendasikan. Salah satunya yang cukup dekat dari museum adalah OYO 614 Graha 8 Syariah. Tarif menginap per malamnya mulai dari Rp170.000.
Pilihan menginap lainnya yang lebih murah akan tetapi jarak yang sedikit lebih jauh sekitar 2 km yakni di OYO 3449 Putri Garuda Hotel yang tarif per malamnya hanya Rp120.000.
Artikel ini ditulis oleh Zahir
Berita Terkait
Neko-Kepo, Surga Pencinta Kucing di Surabaya
Food & Travel 04 Februari 2021Museum Macan, Koleksi Seni Kontemporer
Food & Travel 04 Februari 2021Memahami Karakter Manusia di Museum Sewu Rai
Food & Travel 04 Februari 2021Staycation di Pana House Bikin Terpana
Food & Travel 03 Februari 2021Museum Fauna Indonesia “Komodo” dan Taman Reptilia
Food & Travel 03 Februari 2021

Voucher Rekomendasi
Terbaru
Indische 1931, Kafe Berkonsep Vintage
Food & Travel 05 Februari 2021Gurihnya Growolan, Makanan Khas Cirebon
Food & Travel 05 Februari 2021Orange Cafe, Tempat Nongkrong Mengasyikan di Kantor Pos
Food & Travel 05 Februari 2021Kucing-Kucing Lucu Menemani Hangout di Kopi Cat Cafe
Food & Travel 05 Februari 2021Wajah Baru Tugu Jogja yang Kian Memesona
Food & Travel 05 Februari 2021Cita rasa Khas Sidak Bakso
Food & Travel 05 Februari 2021LetKis'S Cafe and Resto Jadi Tempat Buat Eksis
Food & Travel 05 Februari 2021
Berita Video
Popular Tags
Trending
Berburu Mainan di Jakarta Toys & Comics Fair 2020
News 29 Februari 2020Youtuber Masak Jenglot Goreng Tepung, Apa Rasanya?
News 19 November 2019Seperti Apa sih Fasilitas Hotel Untuk Isolasi
News 28 April 2020Nongkrong Asyik di Sumur Moo Nyoo
Food & Travel 07 Oktober 2020Pesona Bukit Bintang Tiga Rasa di Lombok
Food & Travel 12 Oktober 2019Nasi Bakar Isi Kepompong Ulat Jati
Food & Travel 04 Oktober 2019Mahasiswa Tuntut DPR Menunda RUU KUHP
News 20 September 2019