Kapurung, Papedanya Masyarakat Luwu

Food & Travel 09 Juni 2020

papeda makassar luwu kapurung kuliner

Foto: Instagram/@mamaettty


Metroxylon Sagu, dikenal juga dengan rumbia atau sagu, merupakan salah satu jenis palma yang menghasilkan tepung sagu pada batang tanamannya. Sebagian masyarakat menggunakan sagu menjadi bahan makanan pokok untuk diracik menjadi papeda.

Papeda sendiri merupakan panganan berupa bubur sagu yang sering kali dimakan bersama ikan kuah kuning yang berasal dari kunyit. Seperti di Sulawesi Selatan, ada panganan berbahan dasar sagu bernama Kapurung. Seperti apa rasanya?

Kapurung merupakan makanan khas daerah Luwu. Namun panganan ini mudah ditemui hampir di seluruh daerah di Sulawesi Selatan, termasuk Kota Makassar. Bahkan, restoran atau rumah makan yang menyediakan menu ini sangat mudah dijumpai.

Pada dasarnya, kapurung adalah makanan dari bubur sagu yang dibentuk bulat kecil, lalu dicampur dengan berbagai sayuran, daging, ikan, atau udang.


Foto: Instagram/@nurul_patawari

Tepung sagu yang telah disiram dengan air mendidih akan berubah tekstur menjadi kental dan lengket. Setelah hangat, kapurung akan dibentuk bulat kecil menggunakan dua sumpit, yang dikenal dengan istilah ma’dui. Kapurung yang telah dibentuk itu lantas dicampur dengan kuah berbagai isian. Biasanya, kuah isian ini terdiri dari sayuran, seperti terong, labu kuning, jantung pisang, dan sayuran hijau (bayam, kangkung, daun kacang, dan lainnya). Isian lainnya adalah daging, ikan, atau udang (salah satunya saja.)

Kapurung, atau disebut pugalu atau bugalu telah menjadi makanan pokok sejak dulu. Meski sekarang masyarakat Luwu kerap menjadikan nasi sebagai makanan pokok, tetapi kapurung masih menjadi panganan yang sangat sering dikonsumsi. Rasa kapurung yang asin, gurih, dengan kuah kental menjanjikan pengalaman rasa yang jarang ditemui di makanan lain. Selain itu, kapurung juga mudah dikonsumsi sebab lantaran dibentuk bulatan kecil sehingga cukup dengan sekali suapan saja. Pada acara kumpul keluarga, kapurung sering dimasak dalam porsi besar.

Mengandung nilai gizi yang tinggi, Kapurung sangat cocok dinikmati sebagai menu santap siang. Dalam 100 gram sagu terdapat karbohidrat sebanyak 94 gram, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat, 10 mg kalsium, dan 1,2 mg zat besi. 100 gram sagu menghasilkan 355 kalori.


Foto: Instagram/@kapurungboria.smd



Selain tinggi karbohodrat, isian pada kuah kapurung melengkapi kebutuhan gizi dan bisa menambah tenaga di siang hari. Namun menikmati kapurung di malam hari juga merupakan hal lazim ditemui.

Untuk Anda yang penasaran mencoba panganan kapurung, sangat direkomendasikan mencicipi olahan dari rumah makan yang menyajikan kapurung autentik, yakni Kapurung Kasuari.

Rumah makan ini adalah satu dari sekian banyak rumah makan khusus yang menyediakan kapurung. Kapurung Kasuari terletak di Jalan Kasuari No. 2, Kunjung Mae, Mariso, Kota Makassar. Selain menyediakan kapurung, rumah makan ini juga menyediakan menu khas Luwu lainnya seperti lawa, pacco, sinole, racca mangga, dan berbagai menu khas yang sangat cocok disandingkan dengan kapurung.


Foto: Instagram/@the.fooddoctor

Harga kapurung bervariasi tergantung jenis bahan yang menjadi isian kuah. Seporsi kapurung dibandrol antara Rp20.000 hingga Rp25.000 per porsinya. Tempat makan ini buka setiap hari, pukul setengah delapan pagi sampai pukul sepuluh malam.

Berkunjung ke Makassar, kapurung menjadi salah satu makanan yang wajib dinikmati. Makanan khas lainnya yang wajib dicicipi adalah coto, pallubasa, atau mi titi.
Artikel ini ditulis oleh Nawa Jamil

papeda makassar luwu kapurung kuliner

Berita Terkait

Berita Video