Harimbale Sawo Ajang Silaturahmi Bagi Masyarakat Sekitar

Lifestyle 11 Mei 2021

Foto: Foto : Brisik.id/Ropi delau

Kehidupan di pedesaan terkenal dengan lingkungan sosialnya yang bermasyarakat dan bergotong royong. Pun menelusuri kehidupan bermasyarakat di pedesaan selalu menjadi hal menarik apalagi bagi mereka yang pernah hidup di lingkungan pedesaan. Kehidupan sosial di sebuah pedesaan menjadi sebuah kenangan yang kelak menjadi bagian dari nostalgia yang layak diingat dan diceritakan. 

Kebersamaan di lingkungan sosial dapat terlihat di berbagai kegiatan-kegiatan sosial yang sedang berlangsung atau di perkumpulan-perkumpulan umum seperti harimbale (pasar tradisional). Harimbale merupakan pasar tradisional bagi masyarakat pedesaan yang tersebar di beberapa pusat kecamatan di pulau Nias salah satunya adalah Harimbale Sawo yang berlokasi persis di lingkungan kecamatan Sawo, kabupaten Nias utara, Sumatera utara. 

Sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai hasil bumi yang dihasilkan di lingkungan wilayah sekitar seperti jenis tanaman-tanaman muda, buah-buahan, sayur-sayuran sampai pada jenis minuman tradisional yang diproduksi di pulau Nias sendiri yaitu Tuak (Tuak Suling). Harimbale Sawo adalah sebuah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Nias yang memiliki hasil bumi untuk dijual kepada orang banyak. 

Tak jarang juga banyak masyarakat Nias yang menggantungkan hidupnya di sini dengan berjualan hasil bumi yang dia hasilkan dari perkebunannya. Para penjual ini pun bisa dengan bebas membuka lapaknya sendiri di lingkungan Harimbale Sawo atau hanya sekedar menggelar tikar di pinggir jalan yang tentunya bebas dari pungli seperti yang terjadi di kota-kota besar di luar sana. selain itu, para penjual lain ikut ambil bagian untuk menawarkan dagangannya kepada masyarakat luas sampai laris manis. 

Harimbale Sawo sudah buka sejak lama puluhan tahun yang lalu sampai saat ini masih tetap ramai dan tidak pernah mati meskipun covid-19 menghantam dunia yang berefek pada para pedagang dan pembeli. Namun di harimbale Sawo, para pedagang masih bisa survive meskipun penghasilan mereka menurun dibanding bulan-bulan sebelumnya sebelum pandemi datang. 

Foto : Brisik.id/Ropi delau

Hal menarik tentang harimbale adalah ketika pasar tradisional ini dijadikan sebagai ajang untuk bersilaturahmi satu dengan yang lainya apalagi kepada sanak family dan keluarga dekat lainnya. Bagaimana tidak pasar tradisional yang diadakan sekali seminggu ini menjadi waktu yang ditunggu-tunggu bagi setiap orang untuk bertemu dengan teman-teman, sanak family dan keluarga dekatnya. Bahkan sebelum harimbale tiba, jauh-jauh sebelumnya sudah harus janjian terlebih dahulu untuk datang bersama di pasar tradisional Sawo. 

Moment-moment pertemuan lainnya sering kali dilakukan di pasar tradisional ini seperti anggota keluarga yang sudah lama merantau dan bertemu dengan sanak saudaranya, yang paling bikin demam adalah moment  pasangan muda yang hendak dijodohkan satu sama lain, maka satu satunya tempat untuk bertemu pertama kali adalah di pasar tradisional (Harimbale sawo).  

Apalagi bagi kehidupan masyarakat Nias tentang hukum pergaulan antara laki-laki dan perempuan masih sangat kental. dengan kata lain, antara laki-laki dan perempuan tidak boleh bergaul/bertemu sembarangan. Sehingga moment-moment seperti di atas menjadi hal spesial bagi mereka yang terlibat di dalamnya. Bagi muda/mudi kelahiran 90-an dan masih tinggal di pedesaan, ini menjadi nostalgia khusus yang masih terngiang-ngiang hingga detik ini. Sebuah memori yang susah dilupakan seumur hidup. 

Foto : Brisik.id/Ropi delau

Bukan saja di kalangan orang dewasa, makna harimbale (pasar tradisional) di kalangan anak kecil di pedesaan juga merupakan sebuah penantian yang membahagiakan bagi mereka dengan harapan akan ada bekal atau sesuatu yang dibawa pulang oleh orang tuanya habis pulang dari harimbale, meskipun hanya sebatas gorengan dan es lilin yang terkenal saat itu. Sesederhana itu anak-anak di pedesaan sudah merasa sangat bahagia dengan momen harimbale yang mereka tunggu-tunggu. 

Kebersamaan masyarakat sebelum berangkat ke Harimbale pun menjadi sebuah moment yang mengesankan di mana kita bisa melihat kelompok masyarakat dengan kompaknya berangkat bersama dengan canda tawa menghampiri sepanjang perjalanan. Harimbale Sawo diadakan sekali seminggu tepatnya setiap hari kamis yang mulai pukul 07.00-13.00 WIB. Meskipun pasar ini buka hanya setengah hari, maka kerumunan orang-orang seakan tak ada habisnya bahkan sebelum para pedagang muncul sekalipun para pembeli sudah duluan datang menunggu untuk belanja kebutuhan mingguannya. 

Harga yang ditawarkan juga tergolong murah karena barang-barang yang dijual merupakan hasil bumi langsung tanpa perantara. Lingkungannya yang masih asri dengan pepohonan hijau di sekeliling harimbale menambah nuansa tradisionalnya semakin terkesan indah dan susah dilupakan. 

Foto : Brisik.id/Ropi delau

Yang hampir tak masuk akal bahwa di Harimbale Sawo, Teman Brisik masih bisa menemui kelompok masyarakat yang melakukan transaksi tradisional nenek moyang terdahulu yaitu dengan cara barter. Misalnya seorang petani yang menukarkan hasil buminya kepada penjual yang akan ditukar dengan sejumlah barang kelontong sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Ini jarang terjadi di pasar tradisional mana pun apalagi pada perkembangan zaman saat ini. Tapi hal itu masih bisa dijumpai di Harimbale Sawo yang seakan membawa kita untuk merasakan bagaimana kehidupan nenek moyang terdahulu sebelum dijamah oleh perkembangan zaman dengan fasilitas yang semakin canggih. 

Lingkungan sepanjang harimbale pun selalu dipadati oleh kendaraan ditambah dengan para pedagang yang menggelar dagangannya di sepanjang bahu jalan. Tak jarang wilayah ini sering kali macet total. Sehingga bagi teman brisik yang hendak lintas di wilayah ini pada hari yang sama, disarankan untuk mengambil jalur alternatif, lintas Awa’ai belok kiri dari arah Gunungsitoli, persis berada di desa Awa’ai. Satu-satunya jalan lintas yang melewati Hilimaziaya menuju Lotu ketika hendak ke kota kabupaten Nias utara. 

Jika Teman Brisik penasaran dan ingin melihat langsung Harimbale Sawo bisa dengan mudah dijangkau dari kota Gunungsitoli yang hanya 1.5 jam di perjalanan. Sebuah pasar tradisional yang kelihatan sangat sederhana. Namun, bisa jadi bagai kota terlengkap bagi kehidupan orang di pedalaman, seperti masyarakat kecamatan Sawo di mana segala kebutuhan mereka bisa didapatkan di sana sesuai dengan standard kehidupan di pedesaan. 

Tags : lifestyle brisik nias utara brisik.id pasar tradisional harimbale pasar harimbale sawo tradisional

Artikel ini ditulis oleh :

Supertramp
  

Ranking Level

BadgeNameKeterangan
Bronze 11-14 artikel
Bronze 215-30 artikel
Bronze 331-45 artikel
Bronze 445-60 artikel
Bronze 561-75 artikel
Silver 176-125 artikel
Silver 2126-175 artikel
Silver 3176-225 artikel
Silver 4226-275 artikel
Silver 5276-325 artikel
Gold 1326-400 artikel
Gold 2401-475 artikel
Gold 3476-550 artikel
Gold 4551-625 artikel
Gold 5626-700 artikel
Platinum 1701-800 artikel
Platinum 2801-900 artikel
Platinum 3901-1000 artikel
Platinum 41001-1100 artikel
Platinum 51101-1200 artikel
Diamond 11201-1350 artikel
Diamond 21351-1500 artikel
Diamond 31501-1650 artikel
Diamond 41651-1800 artikel
Diamond 5> 1800

Gunungsitoli {[{followers}]} Followers



Berita Terkait

Travel

Dingin Adem Curug Silintang, Pesona Tersembunyi di Purbalingga

Curug setinggi 75 meter ini menawarkan keindahan dan kesejukan alam yang memukau.

25 Jul 2021

Kuliner

C for Cupcakes & Coffee, Hadirkan Menu Super Unyu

Coffee shop paling menarik buat para pecinta dessert.

25 Jul 2021

Kuliner

Replika Yard, Hadirkan Nuansa Jepang di Kota Rambutan

Kafe yang mengusung konsep ala-ala Negeri Matahari Terbit.

25 Jul 2021

Kamu Mungkin Tertarik

Kuliner

Mencicipi Hidangan Korea di Seoul Restaurant Palembang

Tak hanya suasana dan makanan yang Korea abis, ownernya punya berasal dari Korea.

18 Juli 2021

Travel

Keunikan Destinasi Wisata Alam Kebun Kurma Barbatee

Siapa bilang kurma tidak bisa tumbuh di Indonesia?

13 April 2021

Travel

Wisata ke Pantai Ditemani Lantunan Musik Melayu Tradisional

Di Batam hanya ada satu pantai yang memiliki seni pertunjukan musik tradisional.

08 Maret 2021

Travel

Menengok Menara Air Benteng, Bangunan Tertua di Kota Jambi

Faktanya tak banyak yang tahu bahwa menara ini adalah tempat bersejarah di Kota Jambi.

15 Mei 2021

Kuliner

Seru-Seruan Nonton Live Music di Unico Food Coffee and Social

Kafe yang didominasi dengan warna hitam dan abu-abu.

12 Juli 2021

Terbaru

more

Kuliner

Menghangatkan Diri dengan Steamboat di Pal's Coffee and Food Berastagi

Tempat makan ini memiliki konsep alam, natural, dimana meja dan kursi berbahan dasar kayu jati juga dinding-dinding yang terbuka dari bambu pilihan.

25 Juli 2021

Travel

Gardu Pandang Tieng, Alternatif Bukit Sikunir

Menyajikan panorama Kabupaten Wonosobo dari kejauhan.

25 Juli 2021

Lifestyle

Tari Gambyong, Kesenian Dari Rakyat Yang Berkembang di Lingkungan Keraton Surakarta

Tarian ini biasa dilakukan untuk menyambut musim panen padi.

25 Juli 2021

Kuliner

Artisan Burger a'la Three Buns

Dengan konsep tempat tidak seperti burger fast food.

25 Juli 2021

Travel

Dingin Adem Curug Silintang, Pesona Tersembunyi di Purbalingga

Curug setinggi 75 meter ini menawarkan keindahan dan kesejukan alam yang memukau.

25 Juli 2021

Berita Video

more