Teman Brisik yang ada di Surabaya dan sekitarnya yang gemar mendaki, tentu sudah tak asing lagi dengan Gunung Penanggungan. Gunung yang secara administrasi masuk wilayah Mojokerto dan Pasuruan ini memang ramai pendaki, apalagi ketika musim libur tiba.
Ada beberapa jalur pendakian Gunung Penanggungan. Umumnya pendakian dilakukan lewat jalur Tamiajeng yang sudah dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sumber Lestari. Jalur ini menjadi favorit karena dinilai aman dan cepat untuk mencapai puncak. Waktu pendakian tergolong singkat, hanya sekitar 5 jam perjalanan untuk sampai di puncak yang biasa disebut Puncak Pawitra.
Foto : brisik.id/Indah RahmasariGunung Penanggungan kerap disebut sebagai miniatur Gunung Semeru. Hal ini lantaran kondisi puncaknya tandus yang mirip dengan Puncak Semeru. Ada empat pos pendakian:
Pos 1 berada di Desa Tamiajeng yang berada pada ketinggian 650 mdpl yang merupakan tempat registrasi pendakian. Tiketnya sangat terjangkau, hanya Rp10.000 per orang. Biaya tersebut sudah termasuk asuransi dan peta. Di pos 1 terdapat banyak warung makanan. Dalam warung juga terdapat toilet dan tempat lesehan yang bisa digunakan untuk istirahat setelah lelah mendaki atau menunggu pendakian.
Pendakian dimulai dari pos 1 menuju pos 2 dengan medan yang datar dan sedikit menanjak. Jalurnya sudah rapi, ada hamparan ladang penduduk dan beberapa gerombolan tanaman bambu. Sekitar 1 jam perjalanan akan sampai di pos 2 yang berada pada ketinggian 700 mdpl. Di pos 2 juga terdapat warung yang menjual makanan ringan dan minuman.
Dari pos 2 perjalanan menanjak dengan tanah padat dan vegetasi beragam. Jarak menuju pos 3 tak begitu jauh, namun lumayan membuat kaki pegal dan napas tersengal-sengal. Pos 3 berada pada ketinggian 750 mdpl berupa shelter kecil di tepi jalur pendakian.
Dari pos 3 menuju pos 4 perjalanan akan semakin mendaki. Butuh tenaga ekstra untuk dapat melintasinya apalagi ketika musim hujan. Jalurnya yang licin dibutuhkan konsentrasi ekstra agar tak terpeleset. Pos 4 berada pada ketinggian 850 mdpl dengan shelter kecil dari kayu.
Selepas pos 4 pendakian akan semakin berat dengan medan semakin menanjak dan berliku. Jalur dari pos 4 menuju puncak sangat berdebu ketika musim kemarau dan akan sangat licin ketika musim hujan. Jalur ini akan terasa panjang dan melelahkan.
Foto : brisik.id/Indah RahmasariPuncak Bayangan berada pada ketinggian 1.200 mdpl. Di sinilah biasanya para pendaki akan mendirikan tenda. Tempat ini adalah satu-satunya tempat yang cocok untuk kamping. Dataran yang lumayan luas dengan ilalang di sekelilingnya. Jika musim liburan akan banyak tenda berjejer memenuhinya. Kadang juga terdapat tenda yang menjajakan dagangan berupa minuman dan makanan ringan.
Kebanyakan para pendaki akan beristirahat di Puncak Bayangan sembari menunggu waktu melanjutkan perjalanan menuju Puncak Pawitra. Estimasi waktu yang diperlukan dari Puncak Bayangan menuju Puncak Pawitra sekitar 2 jam lamanya.
Medannya sangat curam, dengan kemiringan lereng sekitar 45 derajat. Jalurnya berupa pasir dan bebatuan. Di sinilah para pendaki diuji. Tak jarang para pendaki akan merangkak ketika naik dan ngesot ketika turun, agar tak terperosot. Jalur ini juga sangat rawan longsor batuan.
Perjalanan melelahkan dengan medan yang berat akan terobati dengan keindahan pemandangan puncak yang ditawarkan. Dari puncak akan nampak deretan Gunung Arjuna, Welirang, Butak, Kawi dan Semeru.
Selain itu, Teman Brisik juga bisa melihat lautan lumpur Lapindo dari Puncak Pawitra. Menyaksikan matahari terbit juga sangat mengasyikkan. Semburat jingga nampak dari kejauhan yang kemudian mewarnai langit yang gelap selepas malam.
Foto: brisik.id/Indah RahmasariAkses Menuju Penanggungan via TamiajengJalur Tamiajeng dapat dijangkau melalui kota Malang dan Surabaya menggunakan bus. Jika berangkat dari Surabaya, bisa naik bus jurusan Malang di Terminal Bungurasih dan turun di Terminal Pandaan. Tarifnya sekitar Rp30.000 untuk jarak tempuh sekitar 40 KM.
Dari Pandaan bisa menumpang Elf L300 dengan jurusan Terminal Pandaan – Trawas dan turun di Pasar Kesiman. Tarifnya Rp15.000 dengan jam operasional mulai pukul 06.00 - 16.00. Selanjutnya menggunakan ojek menuju pos pendakian.
Jika tiba di Terminal Pandaan pada malam hari, alternatif transportasi yang bisa digunakan adalah Elf L300 arah Tretes dan turun di Pertigaan Prigen, tarifnya Rp7.000. Kemudian bisa dilanjutkan dengan ojek menuju pos pendakian dengan tarif berdasarkan negosiasi.
Jika teman brisik ingin menginap untuk melepas lelah setelah mendaki bisa mencoba Gunung Bale Resort Trawas. Lokasinya berada di jalur pendakian dan tak jauh dari pos perizinan, tepatnya di Desa Tamiajeng Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto. Tarifnya mulai Rp600.000. Cottage dengan fasilitas bintang 3 ini menyajikan pemandangan indah dan dilengkapi dengan kolam renang.