Mengenal Ritual Kalahayu Dari Surakarta, Ritual Menyambut Gerhana Matahari

Budaya & Gaya Hidup 08 September 2021

Foto: ulinulin.com

Kota Surakarta atau biasa akrab disebut dengan Kota Solo adalah kota yang kerap dijuluki sebagai kota Budaya. Hal ini sangat beralasan, karena kota ini memiliki banyak sekali budaya yang telah dilaksanakan secara turun-temurun hingga saat ini.

Berbagai prosesi budaya seperti Sekaten, Grebeg Sudiro hingga Kirab Malam Satu Suro adalah beberapa yang sudah cukup terkenal dan mampu mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Ritual budaya tersebut tak lepas dari peran Keraton Surakarta yang bisa dibilang menjadi pencipta dari ritual-ritual tersebut yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Kebanyakan ritual-ritual tersebut digelar setahun sekali untuk berbagai peringatan. Misalnya Sekaten yang menjadi perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW atau juga Kirab Malam Satu Suro untuk perayaan tahun baru Islam.

Namun ada juga perayaan yang digelar pada waktu-waktu yang tidak menentu, salah satunya adalah Ritual Kalahayu.

Tentang Ritual Kalahayu

Foto : ulinulin.com

Ritual Kalahayu adalah sebuah perayaan untuk menyambut datangnya gerhana matahari. Momen gerhana matahari ingin disambut dengan rasa suka cita pada ritual kalahayu ini.

Menurut sejarah ritual ini awalnya adalah wujud ketakutan masyarakat Jawa khususnya daerah Keraton Surakarta yang menganggap bahwa gerhana matahari adalah suatu pertanda akan datangnya petaka.

Masyarakat Jawa kuno percaya bahwa gerhana matahari disebabkan karena murkanya Bathara Kala (Dewa Waktu) karena ulah manusia yang kemudian membuat dia memakan matahari tersebut  

Namun kemudian seiring berjalannya waktu, para seniman kota Surakarta mengubah tradisi ini menjadi perayaan yang penuh sukacita. Mereka ingin menyebarkan stigma bahwa gerhana matahari bukanlah suatu momen yang menyeramkan. Sebaliknya, gerhana matahari adalah momen perkawinan alam raya yang harus dimaknai secara positif dan disambut dengan penuh sukacita.

Foto : ANTARA FOTO/Maulana Surya 

Prosesi Ritual Kalahayu

Ritual Kalahayu dimulai dengan melakukan arak-arakan atau dalam bahasa Jawa disebut kirab. Dalama kirab ini para peserta ritual membawa gunungan yang berisi hasil-hasil bumi seperti kacang-kacangan, buah-buahan, pala kependhem hingga rempah-rempah.

Para peserta yang mendapat tugas mengangkat gunungan ini biasanya akan mengenakan pakaian bawahan putih dan selendang putih yang disampirkan di bahu layaknya kostum empu pada jaman dahulu.

Setelah gunungan selesai diarak, prosesi selanjutnya adalah menggelar Adeng-adeng. Ini adalah sebuah ritual dimana masyarakat berkumpul dan membuat suara lewat kentongan atau lesung yang dipukul. Dalam istilah Jawanya kegiatan ini disebut dengan Klothekan.

Pada perkembangannya ada beberapa versi ritual yang dilakukan selain Klothekan, diantaranya adalah menepuk pohon kelapa dengan bantal, bancakan hingga mengelilingi sawah. Namun yang paling umum dilakukan adalah Klothekan.

Selanjutnya digelar juga prosesi Adang Ageng atau yang jika dibahasa indonesiakan kurang lebih adalah masak besar. Adang Ageng ini biasa dilaksana dengan menggunakan alat masak bernama kencang dan juga kukusan.

Setelah semua prosesi-prosesi tersebut selesai dilakukan maka kemudian gunungan yang berisi hasil bumi tadi akan dibagikan kepada masyarakat sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat yang melimpah.

Perkembangan Ritual Kalahayu

Dalam perkembangannya ritual kalahayu ini mulai mendapat sentuhan-sentuhan seni agar semakin menarik. Dalam ritual ini biasanya akan diisi juga dengan pementasan tarian, pertunjukkan wayang tandur dan pembuatan keris Kyai Singkir Plastik.

Selain agar bertambah menarik, penambahan-penambahan variasi dalam ritual kalahayu ini diharapkan mampu membuat wisatawan ataupun masyarakat tertarik untuk menyaksikan ritual yang satu ini.

Meski begitu, apabila tertarik tentu saja harus menunggu gerhana matahari terlebih dahulu untuk dapat menyaksikan ritual dari kota Surakarta ini.

Tags : ritual tradisional budaya jawa tengah budaya surakarta tradisi kalahayu

Artikel ini ditulis oleh :

Luthfi Trisna Wahyutama
  

Ranking Level

BadgeNameKeterangan
Bronze 11-14 artikel
Bronze 215-30 artikel
Bronze 331-45 artikel
Bronze 445-60 artikel
Bronze 561-75 artikel
Silver 176-125 artikel
Silver 2126-175 artikel
Silver 3176-225 artikel
Silver 4226-275 artikel
Silver 5276-325 artikel
Gold 1326-400 artikel
Gold 2401-475 artikel
Gold 3476-550 artikel
Gold 4551-625 artikel
Gold 5626-700 artikel
Platinum 1701-800 artikel
Platinum 2801-900 artikel
Platinum 3901-1000 artikel
Platinum 41001-1100 artikel
Platinum 51101-1200 artikel
Diamond 11201-1350 artikel
Diamond 21351-1500 artikel
Diamond 31501-1650 artikel
Diamond 41651-1800 artikel
Diamond 5> 1800

Karanganyar {[{followers}]} Followers



Berita Terkait

Budaya & Gaya Hidup

Mengenal Ritual Kalahayu Dari Surakarta, Ritual Menyambut Gerhana Matahari

Tradisi ini sebelumnya mendapatkan stigma negatif terhadap gerhana matahari, namun kini tradisi ini di lakukan dengan penuh suka cita.

08 Sep 2021

Kamu Mungkin Tertarik

Kuliner

Caffe Knanga, Nyaman Seperti Berada di Pedesaan

Makan enak di saung sederhana mirip pos yang terbuat dari material bambu.

02 April 2021

News

Cegah Atap Ambruk, Para PNS Kenakan Helm di Dalam Kantor

Atap gedung tempat mereka bekerja sudah sangat lapuk.

11 November 2019

Travel

Bersantai di Taman Trunojoyo

Tak hanya sejuk oleh rimbunnya pepohonan ttetapi juga dilengkapi oleh pojok literasi berupa perpustakaan.

11 Juni 2020

Kuliner

Buperta Cibubur, Tempat Aktivitas Berkemah di Tengah Kota

Berkali-kali menjadi lokasi penyelenggaraan Jambore Nasional sejak 1973.

15 Desember 2020

Travel

Padepokan Lemah Putih Solo yang Sudah Mendunia

Banyak orang asing yang ikut berpartisipasi.

11 Oktober 2019

Terbaru

more

Kuliner

Paratamu Coffee Siap Menyambut Kehadiranmu

Kedai kopi terasa teduh karena pepohonan hijau yang tumbuh di sekitar lokasi.

18 September 2021

Travel

Masjid Besar Hizbullah Singosari, Basis Perjuangan Santri Merebut Kemerdekaan Indonesia

Masjid Besar Hizbullah didirikan pada 1907 di atas tanah wakaf milik KH Maksum.

18 September 2021

Travel

Kampoeng Jelok Menghadirkan Nuansa Kampung Lawas yang Autentik

Merasakan Jogja yang sebenarnya.

18 September 2021

Travel

Menelisik Kisah Masa Lalu di Punden Mbah Singo Joyo

Punden ini mengandung cerita rakyat sekitar tentang asal-usul penamaan Kampung Made.

18 September 2021

Kuliner

Yosh Milktea Cilacap, Cafe Mini di Pinggir Jalan

Cafe ini memiliki tempat yang minimalis dengan suasana garden yang homey.

18 September 2021

Berita Video

more