Mebalun, Salah Satu Elemen Penting di Rambu Solo

Lifestyle 10 Maret 2021

Foto: Brisik.id/Zulkifli Darwis

Membungkus jenazah pada tradisi kematian di Mamasa adalah salah satu elemen penting pada upacara Rambu Solo, mereka menyebutnya mebalun (membungkus). Proses ini juga sangat memakan waktu lama bisa sehari sampai dua hari, disebabkan rumitnya bungkusan dan jumlah lapisan bungkusan termasuk beberapa pakaian almarhum yang juga diikutkan dalam bungkusan. 

Seperti di Kecamatan Tawalian, Mamasa meski sudah menganut agama Kristen, namun ritual upacara Rambu Solo tetap mereka lakukan. Mereka masih memegang teguh kebiasaan leluhur, percaya bahwa kematian tidak akan sempurna tanpa melalui ritual upacara Rambu Solo. 

Foto : Brisik.id/Zulkifli Darwis

Rangkaian upacara Rambu Solo bisa memakan waktu hingga seminggu bahkan lebih. Rambu Solo memiliki rangkaian ritual cukup rumit dan memerlukan biaya tidak sedikit. Oleh karena itu, keluarga akan menyimpan jenazah dalam rumah sembari mempersiapkan segala kebutuhan berupa materi agar dapat menggelar ritual Rambu Solo. Sebelumnya penulis telah mendapatkan izin terlebih dahulu untuk mengikuti rangkaian upacara tersebut.

Pada acara yang diikuti penulis kali ini, berada di Keluarahan Tawalian, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa. Mendiang, Yohana Tasik Karaeng Palangi'. Beliau tutup usia di umur 91 tahun pada 9 Mei 2019 dan akan dikebumikan pada 27 Februari 2020. Artinya, selama 21 Bulan 18 Hari mendiang didiamkan di atas rumah selama 21 bulan 21 hari. 

Foto : Brisik.id/Zulkifli Darwis

Selama didiamkan di dalam rumah jenazah akan disimpan di dalam peti, jenazah tersebut dijaga oleh dua orang yang disebut To Undataduk Kayu. Dua orang tersebut adalah saudara almarhum. Selama hampir dua tahun menjaga jenazah, para penjaga tersebut tak bisa meninggalkan lokasi kedukaan. Selama itu juga mereka tidak bisa memakan nasi atau sebut Mero’. Namun saat memasuki ritual Rambu Solo anak dan cucu mendiang akan menjalankan ritual Mero.  Mereka baru bisa memakan nasi setelah satu minggu pasca rangkaian upacara rambu solo selesai. Itu pun harus memotong satu ekor babi sebagai syaratnya. 

Pada Sabtu-Minggu (13-14/2) Februari, Prosesi Rambu Solo baru memasuki Pangangkaran dan Pebalunan. Pangangkaran atau dikeluarkannya jenazah dari peti untuk dibungkus lalu dihiasi sebelum memasuki puncak acara. Setelah Pengangkaran, baru memasuki prosesi mebalunan atau membungkus jenazah.

Di prosesi pengangkaran ini juga menjadi salah satu puncak kesedihan keluarga yang tinggal. Karena di situ menjadi momen terakhir keluarga melihat jasad jenazah yang semasa hidupnya akrab disapa Indo Tasik Karaeng. Tak lama setelah dikeluarkan dari peti mayat akan datang orang-orang yang dipercayakan untuk melakukan prosesi mebalun.  

Foto : Brisik.id/Zulkifli Darwis

Prosesi mebalunan terbilang memakan waktu yang cukup lama. Sampai dua hari, hal itu dikarenakan jasad jenazah tak dibungkus seperti pada umumnya. Jasad Yohanna Palangi' dibungkus dengan puluhan kain. Semua pakaian yang dipakai semasa hidup atau pakaian yang disukai, bahkan ada juga pakaian yang memang disiapkan Almarhumah semasa hidup dibungkus bersama jasadnya. 

Selain itu, puluhan kain dan pakaian lainnya juga disiapkan dari anak cucunya juga ikut dibungkus. Puluhan kain yang dipakai mulai dari kain putih, pakaian, sarung, Sambu' (sarung khas Mamasa), selimut hingga ditutup dengan kain merah yang bentuk balunnya berbentuk bulat lonjong.

Foto : Brisik.id/Zulkifli Darwis

Setelah prosesi pebalunan selesai, jasad tersebut akan dibawa ke Tado (teras rumah), selama satu dua hari. Di situ, jasad yang sudah di balun dalam posisi berdiri. Setelah dalam posisi berdiri, balun tersebut kembali ditidurkan dan ditaruh ke dalam Paya (sebuah tempat yang berbentuk rumah adat Mamasa dengan panjang sekira dua meter lebih).  

Di situ, balunan jenazah akan dihiasi dengan emas. Selama prosesi Rambu Solo berjalan, balunan tersebut akan ditaruh paya hingga memasuki proses penguburan atau disebut pelamunan, karena pada saat puncak acara Rambu Solo, keluarga dan kerabat akan berdatangan datang melayat. 

Foto : Brisik.id/Zulkifli Darwis

Upacara Rambu Solo di Kabupaten Mamasa, rutin digelar setiap tahun. Hanya saja untuk mendapatkan informasi pagelaran Rambu Solo sulit didapat. Sebab upacara ini merupakan kegiatan keluarga mereka yang meninggal. 

Untuk diketahui, upacara Rambu Solo ini merupakan tradisi yang hanya di lakukan hampir seluruh wilayah Kabupaten Mamasa dan Kabupaten Toraja, Sulawesi Selatan.  

 

Tags : mebalun rambu solo tradisi budaya tawalian mamasa sulawesi barat

Artikel ini ditulis oleh : 06agustus93


Berita Terkait

Food & Travel

Mengunjungi Kampung Semanggi Benowo, Penghasil Primadona Kuliner Surabaya

Semanggi merupakan salah satu bahan pecel khas Surabaya.

11 Apr 2021

Lifestyle

Self Service, Salah Satu Budaya Berjualan di Malang

Konsep self service sangat mudah dijumpai baik dalam berbagai bidang usaha di Kota Malang.

11 Apr 2021

Lifestyle

Suku Tengger Beradaptasi Walau Pariwisata Mati Suri

Adaptasi Suku Tengger dalam masa pandemi meski tak lagi mengandalkan pariwisata.

09 Apr 2021

Terbaru

more

Food & Travel

Mengunjungi Kampung Semanggi Benowo, Penghasil Primadona Kuliner Surabaya

Semanggi merupakan salah satu bahan pecel khas Surabaya.

11 April 2021

News

Kembali Buka! Yuk, Wisata ke Taman dan Hutan Ibu Kota

Berwisata di taman dan hutan kota Jakarta.

11 April 2021

Food & Travel

Jiwa-Jawi Jogja, Destinasi Kuliner dan Budaya

Restoran dengan konsep Jawa baik dari sajiannya maupun desain bangunannya

11 April 2021

Food & Travel

Frogshelter, Punk Coffee Bar Bernuansa Konser Musik

Ngeband sambil ngopi bisa disini.

11 April 2021

Lifestyle

Self Service, Salah Satu Budaya Berjualan di Malang

Konsep self service sangat mudah dijumpai baik dalam berbagai bidang usaha di Kota Malang.

11 April 2021

Berita Video

more