Labuhan Merapi, Simbol Harmonisasi Manusia dan Alam

Lifestyle 19 Februari 2021

merapi labuhan kearifan lokal

Foto: kebudayaan.slemankab.go.id/Dekhi


Gunung Merapi adalah salah satu gunung yang paling unik menurut para vulkanolog. Betapa tidak, gunung yang berada dalam dua provinsi ini, selalu memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan aktivitasnya yang tak jarang di luar prediksi keilmuan yang ada. Nah, tidak hanya menarik sebagai destinasi wisata yang bisa memanjakan mata kita untuk swafoto, Merapi sendiri telah menjadi satu nadi besar terciptanya kearifan lokal, khususnya masyarakat di lerengnya.

Labuhan Merapi dalam Balutan Sejarah

Foto : ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Sudah tidak asing lagi bagi kita, bahwa Merapi kini telah erupsi beberapa kali. Uniknya, berapa kali pun Merapi erupsi, masyarakat di sekitar lereng Merapi tetap menganggap Merapi sebagai "Mbah" yang mengayomi kehidupan mereka. Oleh karenanya, tidak heran jika banyak ritual adat yang dijalani sebagai upaya menjalin relasi harmonis antara Merapi dan kehidupan masyarakat di dalamnya. Salah satu ritual adat yang paling kesohor adalah Labuhan Merapi.  

Dalam narasi sejarah, Labuhan Merapi memiliki beberapa versi narasi. Akan tetapi, satu yang paling sering diberitakan adalah keterkaitan Merapi dan Panembahan Senopati. Lucas Sasongko Triyoga dalam bukunya berjudul Manusia Jawa dan Gunung Merapi menceritakan bahwa dulu Dewa menciptakan Pulau Jawa dengan keseimbangan yang timpang. Ketidakseimbangan ini disebabkan keberadaan Gunung Jamurdipo yang berada di ujung barat Pulau Jawa. Dewa Krincingwesi pun berniat memindahkannya ke bagian tengah Jawa.

Rencana ini pun dilakukan. Akan tetapi, begitu sampai di lokasi, ternyata ada dua empu yang sedang membuat Keris Pusaka Jawa. Kedua empu ini dikenal dengan nama Empu Rama dan Empu Permadi. Kedua empu ini tidak mau pindah dari lokasi mereka. Dewa Krincingwesi pun tetap memaksa menjatuhkan gunung itu tepat di spot kedua empu ini membuat keris. Akhirnya Empu Rama dan Empu Permadi gugur di sana. Untuk memperingati ini, Gunung Jamurdipo berganti nama menjadi Gunung Merapi; karena merupakan lokasi perapian pembuatan pusaka. Kedua roh empu inilah yang akhirnya dinarasikan menjadi penguasa segala jenis makhluk gaib di sana.

Pada suatu waktu, Merapi akhirnya memiliki ikatan narasi dengan Panembahan Senopati. Ketika Senopati sedang berperang dengan kerajaan Pajang. Senopati meminta bantuan kepada makhluk gaib di Merapi. Akhirnya Empu Rama dan Empu permadi membantu Senopati yang kemudian menjadi pemenang dalam perang tersebut. Persembahan inilah yang akhirnnya dilakukan oleh keturunan Senopati kemudian. Acara ini lalu kelak dikenal dan diwariskan dengan sebutan Labuhan Merapi.

Foto : gudeg.net/Rahman

Labuhan Merapi, Nada Harmonis dari Manusia Untuk Alam

Labuhan Merapi tiap tahun dilaksanakan dengan mempertahankan kesakralan yang sudah diwariskan sejak dulu. Labuhan Merapi menjadi representasi bagaimana manusia Jawa, khususnya Jogja memaknai garis relasi manusia dan alam. Tentu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita bahwa masyarakat Jawa termasuk salah satu kelompok sosial yang masih sangat menjalankan dan melaksanakan tata adatnya, terlebih ritual yang sakral.

Labuhan Merapi pun akhirnya termasuk salah satu ritual sakral yang tidak bisa ditiadakan. Oleh karenanya, Labuhan Merapi selalu mendapat perhatian khusus dari Keraton Jogja. Tanpa terkecuali Tahun 2020 ketika Pandemi melanda. Ritual ini tetap dilaksanakan dengan meminimalkan partisipasi masyarakat.

Ritual ini dipimpin oleh juru kunci Merapi yang saat ini dipegang oleh Mas Asih. Mas Asih sendiri merupakan anak Mbah Maridjan,, Sang juru kunci yang tersohor dan menjadi panutan masyarakat di lereng Merapi. Mas Asih memulai ritual dengan berdoa di petilasan kediaman Mbah Maridjan di Kinahrejo. Setelah selesai, Mas Asih akan memimpin arak-arakan umbo rampe (sesaji) yang berasal dari Keraton langsung. Umbo rampe ini sebagai syarat yang dibawa oleh kumpulan Abdi Ndalem Keraton yang diarak menuju tempat labuhan, yaitu Sri Manganti di kaki Gunung Merapi. Acara kemudian dilanjutkan dengan meletakkan seserahan pada lokasi sembari membakar sela ratus (kemenyan) dan diakhiri dengan doa.

Umbo rampe yang disajikan pada labuhan ini menandakan ucapan syukur dari masyarakat kepada Merapi. Bagi pemikiran modern, letusan Merapi selalu dimaknai sebagai bencana yang menakutkan. Hal ini tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, bagi masyarakat yang hidup dan di hidupi oleh Merapi, ini dianggap beda sama sekali. Bagi mereka, letusan Merapi dimaknai sebagai proses harmonisasi Merapi atas apa yang bergejolak di dalamnya. Jika Meletus, Merapi pasti akan memberikan balasan setimpal berupa kesuburan tanah yang melimpah dan air jernih yang senantiasa mengaliri kebutuhan air seluruh masyarakat di sana.

Oleh karena itu, Labuhan Merapi akan selalu diikuti oleh ribuan orang. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Jogja masih percaya bahwa kehidupan manusia akan selalu bergantung pada alam dan pencipta alam. Sebagai makhluk hidup yang kecil, manusia hanya bisa bersyukur dan terus berharap alam senantiasa memberikan keamanan dan kenyamanan hidup. Untuk itulah, Labuhan Merapi menjadi penanda sahih bahwa kearifan lokal mampu menghadirkan ruang harmonis yang indah antara, manusia, alam, dan Maha Penciptanya. Tak selamanya erupsi Merapi dianggap bencana. Labuhan Merapi menjadi bukti konkret bahwa akan selalu ada dimensi lain untuk memaknai ulang erupsi Merapi secara lebih arif. 
 


Artikel ini ditulis oleh Wirakata Bhumi

merapi labuhan kearifan lokal

Berita Terkait

Berita Video