Motif Batik Tertua Khas Banyuwangi, Gajah Uling

Lifestyle 08 Februari 2021

traditional kain batik uling gajah banyuwangi batik

Foto: Instagram.com/gallery_batik_banyuwangi


Kota yang terletak di ujung timur pulau Jawa ini tidak hanya terkenal akan wisata alamnya yang menawan, kebudayaan yang tetap lestari juga salah satu daya tariknya. Sehingga tidak mengherankan kabupaten ini menjadi daya tarik bagi wisatawan. Banyak hal yang dapat dirasakan dan nikmati selagi berada di kabupaten ini. Salah satunya adalah batik Gajah Oling yaitu batik khas serta motif batik tertua yang berasal dari Banyuwangi. 

Motif Gajah Oling merupakan motif yang terinspirasi dari belalai gajah dan uling (sejenis ular yang hidup di air). Secara filosofis bentuk ini mengartikan bahwa gajah yang merupakan hewan bertubuh besar menyimbolkan maha besar dan Oling yang berari uling memiliki makna eling atau ingat, oleh karena itu batik dengan motif ini memiliki arti bahwa kita sebagai manusia hendaknya selalu ingat kepada Tuhan yang Maha besar. Motif batik ini berbentuk tanda tanya yang menyerupai bentuk belalai gajah dan uling. Selain unsur utama ini, terdapat unsur pendamping lainnya seperti kupu-kupu, suluran (semacam tumbuhan air), dan manggar (bunga pinang atau Bunga kelapa).


Foto: instagram.com/batik_sayu_wiwit

Dulu batik ini Gajah Uling digunakan oleh masyarakat untuk menggendong anak-anak mereka ketika masih kecil. Jarik yang bermotif Gajah Uling dipercayai mampu membuat anak tidak diganggu makhluk halus, khususnya saat samarwulu atau keadaan sore menjelang petang. Karena di saat itu merupakan waktu paling berdekatan antara pintu manusia dengan pintu makhluk gaib, sehingga banyak yang mempercayai bahwa di waktu itu banyak makhluk halus yang sedang hilir mudik dan dianggap berbahaya bagi anak-anak atau bayi. Begitulah sisi lain dari batik Gajah Uling ini.

Semakin berkembangnya jaman, kini batik Gajah Uling telah melebarkan sayapnya. Semakin banyak masyarakat yang mengenal serta memasarkan batik ke berbagai daerah bahkan dunia. Selain itu, melalui kegiatan Banyuwangi Batik Festival yang merupakan tempat diperkenalkannya batik-batik Banyuwangi kepada orang-orang terkemuka dan masyarakat luas, batik Gajah Uling semakin menonjol. Pada tahun 2013 BBF (Banyuwangi Batik Festival) mengangkat Gajah Uling sebagai tema mereka. Hal ini menjadi salah satu media semakin terkenalnya batik Gajah Uling.

Oleh karena itu, banyak wisatawan yang penasaran mengenai proses pembuatan batik Gajah Uling ketika mengunjungi Banyuwangi. Teman Brisik dapat mengunjungi sentra batik yang tersebar di berbagai daerah di Banyuwangi. Salah satunya yaitu Umah Batik Sayu Wiwit yang terletak di Jl. Sayu Wiwit, Temenggungan, Kab. Banyuwangi.

Umah Batik Sayu Wiwit ini telah berdiri sejak tahun 2010 dan memproduksi batik tulis, cap, maupun campuran. Selain membeli berbagai jenis batik khas Banyuwangi, di sini juga dapat melihat sendiri proses pembuatan batik. Namun proses pembuatan batik di Umah Batik Sayu Wiwit ini hanya dilaksanakan sampai pukul 13:00 WIB, hal ini ditujukan agar mood karyawan tetap terjaga dan batik yang dihasilkan cukup berkualitas. Apabila teman brisik berniat membeli batik hasil pembuatan Umah Batik Sayu Wiwit, teman brisik dapat menyiapkan anggaran mulai dari Rp80.000 sampai Rp1.500.000 untuk per lembar kainnya. Tentunya harga tersebut dipengaruhi dari bahan, teknik pembuatan, serta tingkat kesulitan saat pembuatan batik tersebut. 




Foto: Instagram.com/batik_sayu_wiwit

Lokasi Umah Batik Sayu Wiwit ini tidak jauh dari Stasiun Banyuwangi Kota, teman brisik dapat menempuh kurang lebih 13 menit menggunakan sepeda motor. Bagi teman brisik yang tidak membawa kendaraan dapat menggunakan ojek yang biasa berada di sekitar stasiun atau aplikasi ojek online dengan harga berkisar Rp13.000 – Rp15.000.

Karena lokasi tempat ini berada di pusat kota, maka teman brisik dapat mengunjungi tempat lainnya, seperti Kampong Wisata Temenggungan yang merupakan tempat di mana Umah Batik ini berada yaitu di Temenggungan. Tempat ini merupakan kampong produksi terlama batik khas Banyuwangi, di perkampungan ini teman brisik dapat melihat dinding-dinding jalan yang bergambar motif batik dan juga dapat menemukan warga yang sedang membatik di pelataran rumah mereka.

Selain kampung wisata ini, Umah Batik Sayu Wiwit juga berdekatan dengan Taman Blambangan di mana teman brisik dapat menemukan street food pada malam hari dan tempat berolahraga pada siang hari. Ada pula Taman Sritanjung yang merupakan tempat bersantai keluarga, Masjid Baiturrahman yang merupakan masjid terbesar dan tempat Al-Qur’an raksasa, pasar tradisional Blambangan, serta Pendopo Sabha Swagata Blambangan yang merupakan tempat tinggal dari Bupati Banyuwangi dan tidak jauh dari situ terdapat sumur air wangi yang merupakan asal mula nama Kabupaten Banyuwangi.

Karena berada pada satu komplek daerah maka teman brisik dapat mengunjungi berbagai tempat ini dengan berjalan kaki 6-7 menit saja. Apabila merasa kurang untuk menjelajah dalam waktu satu hari dan membutuhkan tempat beristirahat, teman brisik dapat beristirahat di Hotel Blambangan dengan harga kurang lebih Rp380.000/malam, berjarak 1km dari Umah Batik Sayu Wiwit, kurang lebih 9 menit dengan berjalan kaki.
 
 
Artikel ini ditulis oleh Ina

traditional kain batik uling gajah banyuwangi batik

Berita Terkait

Berita Video