Kerukunan Antar Agama Terasa di Taman Lingsar

Lifestyle 19 Januari 2021

wisatareligi watutelu perangtopat tamanlingsar puralingsa

Foto: Instagram.com/indonesia_forever_


Pulau Lombok memang terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid, namun bukan berarti hanya ada umat Muslim saja di Lombok. Umat Hindu yang mayoritas keturunan Bali juga banyak tak heran, bangunan suci berupa Pura juga berdiri megah di pulau ini. 

Sebuah pepatah mengatakan, di Lombok kalian bisa merasakan Bali, karena banyak Pura yang menjadi tempat suci dan sebagian besar dibuka untuk wisatawan. Salah satu Pura besar dan penuh dengan sejarah adalah Pura Lingsar.

Pura Lingsar merupakan salah satu peninggalan pemerintahan Raja Ketut Angglurah Karangasem Singosari yang didirikan pada tahun 1759. Namun pada akhir abad 19 Pura Lingsar lebih dikenal dengan sebutan Taman Lingsar setelah Raja Anak Agung Made Karangasem membangun dua bangunan tempat ibadah untuk dua agama, yaitu Pura Gaduh untuk pemeluk agama Hindu dan Kemaliq untuk masyarakat suku Sasak penganut agama Islam Watu Telu.


Foto : Instagram.com/dayat_mamiq

Kata Kemaliq dalam bahasa Sasak berarti suci atau keramat. Tempat ini juga diyakini oleh masyarakat Sasak sebagai tempat moksa (hilangnya) seorang penyiar agama Islam Watu Telu yang bernama Raden Mas Sumilir dari Kerajaan Medayin.

Dengan memiliki luas mencapai 26 hektar dan secara umum tempat ini sama seperti pura-pura besar pada umumnya yang dibagi menjadi empat halaman, yaitu Jaba Nista, Jaba Mandala, Jaba Utama, dan Becingah. Masing-masing halaman memiliki fungsi dan saling berkaitan satu sama lain dengan halaman yang paling disucikan terletak di Jaba Utama, di mana tempat Pura Gaduh serta Kemaliq. Tempat ini hingga sekarang menjadi bukti kerukunan antar umat beragama, khususnya Hindu dan Islam.


Foto : Instagram.com/neeshakrish

Setiap harinya Taman Lingsar dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan rekreasi serta beribadah baik oleh pemeluk agama Hindu maupun Islam Watu Telu. Meskipun berbeda keyakinan, namun tetap hidup berdampingan dengan rukun. Bahkan setiap tahunnya, saat Piodalan (upacara suci agama Hindu), selain masyarakat Hindu, masyarakat suku Sasak penganut agama Islam Watu Telu juga turut serta dalam upacara ini.



Upacara yang biasanya berlangsung selama 4 hari ini, menarik animo masyarakat umum serta wisatawan lokal dan mancanegara menyaksikannya. Daya tariknya adalah saat hari puncak adanya tradisi Perang Topat, yaitu tradisi saling lempar ketupat yang dulunya dilakukan oleh pemeluk agama Hindu yang berada di depan Pura Gaduh dan penganut agama Islam Watu Telu yang berada di depan Kemaliq.


Foto : Instagram.com/genpiindonesia

Ketupat yang digunakan sebelumnya didoakan terlebih dahulu dan setelah perang topat masyarakat biasanya membawa ketupat tersebut pulang, untuk ditaruh di sawah ataupun ladang karena dipercaya membawa kesuburan dan panen berlimpah.

Setiap harinya juga banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini untuk menyaksikan megahnya bangunan pura yang dikelilingi oleh tembok bata. Selain Pura Gaduh dan Kemaliq, terdapat juga Pura Manggis, Pura Ulon, Kolam Kembar, Pancuran, dan masih banyak lagi yang akan membuat pengunjung atau wisatawan takjub serta akan merasa tenang dan damai karena suasana religi yang begitu kental.

Untuk fasilitas bagi para wisatawan atau pengunjung disediakan tempat parkir luas, toilet, gazebo, warung, dan fasilitas pendukung lainnya. Taman Lingsar buka setiap hari dari pukul 08.00 sampai pukul 18.00 Wita namun jika ada upacara besar keagamaan buka hingga 24 jam. Tiket masuk ke tempat ini gratis hanya membayar parkir Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil.

Taman Lingsar terletak di Dusun Taman Lingsar, Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, NTB. Untuk menuju Taman Lingsar dari pusat Kota Mataram cukup mudah, sekitar 15 menit dengan jarak kurang lebih 8 km. Dapat ditempuh menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Bila mencari oleh-oleh, terdapat banyak toko oleh-oleh di area Taman Lingsar yang menjajakan jualannya seperti kaos Lombok, kerajinan tangan ketak, pernak pernik khas Lombok, dan oleh-oleh khas Lombok lainnya dengan harga mulai dari Rp 10.000 hingga ratusan ribu. Untuk penginapan terdekat dari lokasi terdapat Tepi Sawah Hotel yang terletak di Jl. Raya Lingsar, Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, NTB. Berjarak kurang lebih 1 km dapat ditempuh kurang dari 5 menit dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.
Artikel ini ditulis oleh putrayasa

wisatareligi watutelu perangtopat tamanlingsar puralingsa

Berita Video