Wisata Cagar Budaya "Sandung" Sebagai Situs Adat Dayak Kalimantan Tengah

Lifestyle 27 Januari 2021

wisata budaya dayak

Foto: bpcbkaltim


Di pedalaman Kalimantan Tengah, sering terlihat rumah-rumah kecil yang terbuat dari kayu ulin dan berukiran khas suku Dayak yang berada di sekitar rumah penduduk. Rumah-rumah kecil tersebut bernama "Sandung". Sandung merupakan bangunan yang menyerupai rumah kecil terbuat dari kayu ulin yang berada di atas tiang berjumlah empat, dua, atau satu. Tempat tersebut biasa digunakan untuk menyimpan tulang orang yang sudah meninggal dunia.

Masyarakat Dayak Kaharingan merupakan masyarakat yang sangat menjaga dan memelihara tradisi sampai dengan saat ini. Peletakan tulang di Sandung dilakukan setelah melalui Upacara Tiwah. Upacara ini dilakukan oleh suku Dayak khususnya di Kalimantan Tengah yang menganut kepercayaan Hindu Kaharingan. Ketika agama-agama besar belum memasuki Kalimantan, Kaharingan merupakan kepercayaan atau agama asli suku Dayak di Kalimantan.

Upacara Tiwah, merupakan ritual Suku Dayak yang bertujuan mengantar arwah menuju ke tempat asal lewu tatau (alam arwah) bersama Ranying Hatala (Dewa tertinggi dalam kepercayaan Kahringan). Saat ini semakin banyak masyarakat penganut kepercayaan Hindu Kaharingan yang berpindah ke Kristen dan Islam, hal ini menjadi faktor semakin jarang Sandung pada saat ini. Tak hanya itu banyak sandung yang dijadikan sebagai sasaran pencurian benda-benda bersejarah oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


Foto : Brisik.id/Imam Wahyudi

Peletakan tulang para leluhur di sebuah bangunan kecil yang dinamakan Sandung mempunyai makna tersendiri, Sandung dianggap sebagai bentuk penghormatan dan bukti kasih sayang kepada para leluhur yang telah mendahului mereka juga dipercaya memiliki kekuatan sakral. Pada sandung inilah tulang belulang nenek moyang yang telah meninggal beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun yang lalu disimpan dengan aman. Pada saat pemindahan tulang ke dalam sandung sarat dengan pembacaan doa-doa yang dilakukan oleh seorang pemimpin Acara Tiwah yang dinamakan dengan basir dan dibantu dengan beberapa fisor atau bisa disebut dengan pemandu acara ritual. Di dalam sandung sering juga disertakan emas, cincin, piring, kain dan barang-barang berharga lainnya tergantung dari keinginan pihak keluarga penyelenggara acara. 

Selain satu keluarga, sandung juga bisa berkembang menjadi satu kampung. Biasanya keberadaan Sandung dijaga dan dirawat oleh para keluarga serta masyarakat sekitar secara bergantian dan bersama-sama. Sandung biasanya diberi warna warna-warni dengan menggunakan cat kayu. Warna yang biasa digunakan adalah merah, hijau, hitam, biru, dan warna lainnya. Disertai dengan motif ukiran khas suku Dayak yang biasa berupa motif burung enggang, tanaman, atau manusia.

Pada zaman sekarang Sandung bukan hanya dibuat dari kayu Ulin (kayu besi) tetapi sudah banyak yang terbuat dari bahan beton dengan cara di cor. Mengingat semakin berkurangnya kayu tersebut serta keberadaannya sulit dicari dan harganya relatif mahal. Tetapi tidak mengalihkan fungsi bahwa Sandung tetap digunakan sebagai penyimpanan tulang para leluhur yang menjadi bukti tanda kasih sayang dan penghormatan dalam kepercayaan Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah.
 
Ada beberapa macam bentuk Sandung, diantaranya: 1). Kariring: Bentuknya serupa dulang tempat makan Babi, tetapi bertiang panjang satu depa. Sub Dayak Tabooyan yang memiliki Sandung seperti ini. 2). Sandung Raung: Sandung yang dikenal pada umumnya tetapi memiliki enam buah tiang. 3). Sandung Tulang: Mempunyai satu buah tiang, gunanya sebagai tempat Balai Telon dan yang diletakan dalam Sandung Tulang ini adalah orang yang mati dibunuh, karena menurut keyakinan bahwa Telon nanti akan membalas kepada orang yang membunuh. 4). Pambak: Pambak bentuknya mirip sandung, hanya tiangnya tidak setinggi sandung. Pambak ukurannya lebih besar, dapat memuat lebih banyak tulang.



 

Foto : Brisik.id/Imam Wahyudi

Penulis berkesempatan secara langsung untuk bisa melihat bangunan bersejarah dan punya banyak makna ini, keberadaannya cukup mudah untuk ditemui karena hanya berjarak sekitar 45,2 M dari Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur menuju ke Kecamatan Cempaga Hulu tepatnya di Desa Parit, dan juga terdapat di beberapa desa lain di Kecamatan yang sana seperti Desa Pelantaran, Desa Rubung Buyung, dan Desa Pundu. Para wisatawan atau orang yang hanya sekedar lewat pun dapat melihat secara langsung keberadaan Sandung ini karena letaknya sangat strategis yakni di pinggiran jalan raya utama yakni Jalan Tjilik Riwut yang menghubungkan akses berbagai kota di Kalimantan Tengah.

Jenis Sandung yang berada di Kecamatan Cempaga Hulu tersebut rata-rata merupakan Sandung Raung ada yang memiliki 6 (enam) buah tiang dan 4 (empat buah tiang). Dengan memiliki corak ukiran kuno dan juga modern. Sandung di daerah tersebut dominan dengan model arsitek kuno, ada yang diberi pagar (agar aman) dan ada juga yang tidak. Keberadaan Sandung di daerah tersebut terbilang unik, karena tidak jauh dari Komplek pemakaman muslim dan masjid. Hal ini menunjukkan adanya kerukunan antar masyarakat sejak zaman dahulu kala hingga sekarang.

Foto : Brisik.id/Imam Wahyudi

Jenis Sandung yang berada di Kecamatan Cempaga Hulu tersebut rata-rata merupakan Sandung Raung ada yang memiliki 6 (enam) buah tiang dan 4 (empat buah tiang). Dengan memiliki corak ukiran kuno dan juga modern. Sandung di daerah tersebut dominan dengan model arsitek kuno, ada yang diberi pagar (agar aman) dan ada juga yang tidak. Keberadaan Sandung di daerah tersebut terbilang unik, karena tidak jauh dari Komplek pemakaman muslim dan masjid. Hal ini menunjukkan adanya kerukunan antar masyarakat sejak zaman dahulu kala hingga sekarang.
 
Lewat tulisan ini, penulis berharap agar tulisan ini bisa bermanfaat dan bertujuan menggali dan mempertahankan bagian dari sejarah masyarakat suku Dayak yang belum terlalu banyak diangkat sejarahnya. Juga agar keberadaan Sandung tersebut diperhatikan pemerintah agar di jaga dan dirawat sebagai cagar budaya yang dilindungi.

Salah satu penginapan yang dekat dengan objek wisata benda yang disakralkan ini adalah Losmen Putra Tunggal yang berlokasi di Jalan Tjilik Riwut Km.74 Desa Pelantaran, Kabupaten Kotawaringin Timur, Sampit. Harga menginap per malam mulai dari Rp 30.000 - Rp 150.000. Untuk fasilitas terbaik mendapat AC, kamar kecil dan kamar mandi, televisi, dan wifi.
 
Artikel ini ditulis oleh Imam

wisata budaya dayak

Berita Terkait

Voucher Rekomendasi

Berita Video