Trunyan, Desa Dengan Tradisi Pemakaman Yang Unik

Lifestyle 23 Mei 2020

pemakaman bali trunyan desa

Foto: indonesia.go.id


Jika pergi ke gunung dan pantai untuk rekreasi sudah terdengar biasa, maka tak ada salahnya bagi Anda mencoba wisata berbau tradisi yang satu ini. Di Desa Trunyan Anda akan dikenalkan dengan tradisi pemakamannya yang unik dari tradisi masyarakat Bali pada umumnya, yaitu tanpa dibakar atau ngaben.

Terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Desa Trunyan merupakan sebuah desa yang terletak di dataran tinggi dan dekat dengan Gunung Batur juga Danau Batur. Mayoritas masyarakat Trunyan mendapat penghasilan dari beternak ikan dan berkebun jeruk, bawang, cabai, hingga sayuran.
Nantinya hasil tambak dan kebun itu akan dijual ke luar desa.

Tradisi Pemakamanan
Meski sekilas masyarakat Trunyan tampak seperti masyarakat lainnya ada sebuah tradisi yang masih mereka lestarikan sampai saat ini, yaitu dalam proses pemakamannya. Bila biasanya pemakaman selalu identik dengan peti atau kain kafan, hal berbeda terjadi di Trunyan. Mayat akan diletakkan begitu saja di atas tanah.

trunyan

Sumber foto:indonesia.go.id

Bukan sembarangan, adat Desa Trunyan mengatur tata cara penguburan bagi warganya menjadi tiga kuburan atau sema (dalam bahasa setempat). Pembagiannya diperuntukkan tiga jenis kematian yang berbeda. Kuburan pertama bernama Sema Wayah, dibuat untuk meletakkan mayat warga Trunyan yang meninggal secara wajar, sebelumnya akan ditutupi kain putih terlebih dahulu, kemudian diberikan upacara. Kedua, Sema Bantas, diperuntukkan bagi mayat yang meninggal secara tidak wajar, seperti kecelakaan atau bunuh diri. Ketiga, Sema Muda, kuburan ini digunakan sebagai tempat untuk mayat bayi dan anak kecil, juga warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah.

Untuk dapat dimakamkan di kuburan tersebut, keluarga yang ditinggal hanya perlu menyiapkan bambu sebagai pagar di samping pemakamannya. Nantinya terdapat pula banten (sesaji) yang diletakkan di dekat area makam. Jika mayat sudah menjadi tulang belulang akan digabungkan menjadi satu, sehingga mayat yang baru bisa diletakkan di dekat pohon Taru Menyan.

Apakah mayat-mayat tersebut tidak berbau? Jawabannya tidak, dan inilah yang harus Anda buktikan sendiri dengan datang ke Desa Trunyan. Mayat tersebut tidak berbau karena diletakkan di bawah pohon besar bernama Taru Menyan. Taru berarti pohon, Menyan berarti harum, sesuai artinya pohon ini dapat mengeluarkan bau harum. Warga setempat percaya akar pohon inilah yang menyerap bau tidak sedap dari mayat.

Kemudian karena pohon Taru Menyan ini hanya dapat tumbuh di daerah tersebut, itu menjadikan daerahnya lebih dikenal sebagai Desa Trunyan sampai hari ini.

Akses Menuju Desa Trunyan
Desa Trunyan dapat diakses selama kurang lebih 2 jam 30 menit dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai menggunakan kendaraan. Jalan memasuki Desa Trunyan cukup ekstrim dengan jalan naik dan turun yang tajam, jadi disarankan bagi Anda yang belum pernah kemari atau belum mahir dalam berkendara untuk menyewa mobil dengan supir yang sudah mengetahui medan. Sebab tak sedikit pengendara mobil yang ngebut dan masuk ke danau, atau yang motornya mogok di jalan turunan.

Lalu untuk mencapai ke kuburan Desa Trunyan Anda perlu menyewa perahu motor untuk melintasi Danau Batur dengan durasi 20-30 menit. Tiket tersedia di beberapa dermaga seperti dermaga Kedisan, Cemara Landung dan Toya Bungkah. Harga tiketnya sendiri dimulai dari Rp920.000 maksimal 2 orang, Rp1.100.000 maksimal 4 orang, dan Rp1.270.000 untuk maksimal 7 orang. Harga sudah termasuk tiket pulang-pergi, masuk ke kuburan Trunyan, donasi, dan guide lokal.

trunyan
Sumber foto:putrama.co.id

Penginapan dan Restoran Terdekat
Bagi Anda yang ingin berangkat ke Desa Trunyan tanpa terburu-buru bisa memilih penginapan terdekat yang tersedia seperti Volcano 2 Guest House, D’umah Coffee, Geopark Village, dan Batur Bamboo Cabin. Untuk restorannya sendiri Anda bisa mencoba mengunjungi Resto Apung yang menyediakan ikan laut segar atau Akasa Kintamani Coffee & Bakery dengan kopinya yang bisa menghangatkan tubuh.

Artikel ini ditulis oleh Dina Ugi - Bali

pemakaman bali trunyan desa

Berita Video