Jalan Panjang Menyusuri Gunung Bukit Raya

Food & Travel 21 Mei 2020

kalimantan bukit gunung

Foto: tripterus.com


Berada tepat di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, terdapat salah satu gunung yang mewakili keindahan asli hutan Kalimantan. 2.278 meter di atas permukaan laut, gunung tersebut dikenal dengan sebutan Gunung Bukit Raya.

Gunung ini sejatinya sudah berdiri sebagai wisata alam pendakian sejak tahun 1996. Sebagai salah satu spot pendakian, Gunung Bukit Raya sendiri disebut-sebut memiliki perbedaan dari kebanyakan gunung lain di Indonesia.

mdpl

Sumber foto:nstagram/@penikmatpenat

Hutan yang lebat, udara bersih serta kelimpahan flora dan fauna endemik Kalimantan masih dapat ditemui di dalam kawasannya. Selain itu, gunung yang berada di wilayah Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya ini termasuk dalam tujuh gunung tertinggi di Indonesia.

Menyusuri kawasan gunung ini bukanlah hal yang mudah. Hal ini dipengaruhi oleh letaknya yang terpencil ditambah dengan kawasan hutan yang masih terjaga kelestariannya.

Walaupun berdiri mewakili gunung-gunung di Kalimantan dalam daftar 7 Summit of Indonesia, Gunung Bukit Raya terbilang masih jarang didaki. Karena aksesibilitasnya yang cukup sulit, diperlukan berbagai macam moda transportasi untuk ke lokasinya sehingga membuat biaya pendakian kian mahal.

Tak hanya soal biaya, jalur pendakian Gunung Bukit Raya juga tidak bisa dianggap sepele. Butuh kesiapan fisik dan mental yang ekstra untuk menaklukkan medan pendakian di gunung yang satu ini.

Sebelum melakukan pendakian ke Gunung Bukit Raya, setiap pendaki akan mengikuti upacara adat terlebih dahulu. Upacara yang dipimpin langsung oleh Kepala Adat Desa Rantau Malam ini dipercaya untuk perlindungan dan keselamatan para pendaki selama melakukan penelusuran.

Ritual adat ini disebut dengan “Ngukuhi Hajat” yang bertujuan untuk menguatkan para pendaki sampai sekembalinya dari pendakian. Hal ini dianggap sangat penting oleh masyarakat setempat karena menyangkut keselamatan lahir dan batin.

Untuk menuju ke Gunung Bukit Raya, harus berangkat menyusuri Sungai Melawi untuk sampai di Rantau Malam. Jika menggunakan speedboat atau klotok (perahu khas Kalimantan) dibanderol dengan harga yang berbeda. Speedboat berkapasitas 4-5 dikenai harga Rp1,5 juta untuk sekali jalan. Sementara perahu klotok menyediakan jasa pengantaran pulang-pergi seharga Rp2,5 juta dengan kapasitas 5-10 orang.

klotok
Sumber foto:nstagram/@letsgetl0st

Untuk paket lengkap selama perjalanan dari Pontianak menuju Desa Rantau Malam membutuhkan biaya sekitar Rp4,5 juta. Jika perjalanan dimulai dari Jakarta, maka estimasi total biaya yang perlu dirogoh sekitar Rp7 juta.

Meski tidak murah, harga tersebut terbilang cukup pantas mengingat waktu dan jarak yang akan ditempuh melewati jalur dengan tantangan medan yang berat. Ada dua provinsi yang dapat dilalui untuk tiba di Gunung Bukit Raya; yakni provinsi Kalimantan Tengah melalui Desa Kasongan atau Desa Rantau Malam di provinsi Kalimantan Barat.

Namun, jalur yang tercepat untuk bisa sampai adalah melalui Desa Rantau Malam. Perjalanan membutuhkan waktu 4,5 jam untuk mencapai titik pergantian perahu di Kecamatan Serawai. Lamanya perjalanan memang menjadi ciri khas utama dari aktivitas pendakian Gunung Bukit Raya.

Dari Kecamatan Serawai menuju Desa Rantau Malam, membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam. Tiba di desa ini, pengunjung bisa mendapatkan penginapan di rumah-rumah warga setempat yang telah ditunjuk oleh pihak Taman Nasional. Biaya untuk menginapnya pun tidak dihargai dengan ketentuan, melainkan harga seikhlasnya.

Selebihnya, pendakian dari Desa Rantau Malam menuju puncak yang disebut sebagai Puncak Kakam membutuhkan waktu sekitar 7,5 jam. Di dalam hutan terdapat banyak pos sebagai petunjuk arah.

Dia dalam hutan Anda dapat melakukan kegiatan seperti berkemah. Selain itu, pendaki juga akan menemukan beberapa hal menarik lainnya, seperti jalur lumut hutan dan Tebing Jempol yang tingginya mencapai 10 meter.

Hal unik yang membedakan gunung ini dari gunung-gunung lainnya ialah, di Puncak Kakam terdapat rumah mungil yang dijadikan sebagai tempat sesajen. Masyarakat Dayak Ngaju menyebut sesaji tersebut dengan sebutan “Ancak”.

Sebagai wisata alam yang saat ini sedang dikembangkan oleh pemerintah setempat, maka untuk pujasera dan pusat oleh-olehnya belum tersedia. Kendati demikian, kalau berbicara sebagai spot pendakian, Gunung Bukit Raya bisa jadi suatu pengalaman yang tidak kalah menarik.

Artikel ini ditulis oleh Fitri Diana Batubara - Palangkaraya

kalimantan bukit gunung

Berita Video