Kenalan dengan Tari Remo dari Jawa Timur

Lifestyle 18 Mei 2020

timur jawa remo tari

Foto: surabayatourism.id


Tegas gerakannya. Bunyi gemerincing di kaki jadi ciri khasnya. Baik perempuan maupun laki-laki boleh menarikannya. Dari Jawa Timur asalnya. Tari remo namanya.

Kedua kaki dibuka, salah satunya dihentakkan ke lantai. Sampur terpasang di badan, digerakkan bergantian oleh tangan kiri dan kanan. Kepala ke atas ke bawah, ke kanan ke kiri. Tegas, tapi lemah gemulai. Begitulah gerakan orang yang tengah menari remo.

Tari remo konon berasal dari Kabupaten Jombang, tepatnya dari Desa Ceweng. Penari jalanan dari Desa Ceweng yang berjasa memperkenalkan tari remo kepada masyarakat. Tari remo yang mereka ciptakan merupakan gambaran seorang pangeran yang tengah bertempur di medan perang. Itulah sebabnya, gerakannya bukan cenderung kemayu, melainkan tegas.

Karena ceritanya tentang pangeran, jadi wajar kalau awalnya semua penarinya adalah laki-laki. Seiring berkembangnya zaman, perempuan pun boleh menarikannya.

Di zaman yang serba modern ini, apakah tari remo masih diminati? Jawabannya, masih. Di tanah kelahirannya, Jombang, masih ada sekumpulan anak yang mau belajar menari remo. Salah satu sanggar di sana yang mengajarkan tari remo adalah sanggar milik Ali Markasa, sang maestro remo Jombangan.

ali

Sumber foto:RICKY VAN ZUMA/JAWA POS RADAR JOMBANG

Sanggar milik Ali sangat sederhana, hanya memanfaatkan halaman di depan rumahnya yang luasnya tidak seberapa. Belajar menari di sanggar tersebut gratis. Ali tidak mencari keuntungan lewat sanggar miliknya. Dia hanya ingin tari remo tetap lestari. Itu saja.

Ali pertama kali mengenal remo saat duduk di bangku SD. Sejak saat itu, ia jatuh cinta. Ia pun terus berlatih remo sampai akhirnya dikenal sebagai maestro remo Jombangan. Pada Desember 2012, ia tampil membawakan tari remo di Gedung Kesenian Taman Ismail Marzuki di Jakarta.

Meski sudah berusia lanjut, tekad Ali untuk melestarikan tari remo tidak pernah kendur. Dengan bantuan istrinya, ia tetap bersemangat mengajar tari. Ia berharap ada Ali-Ali lain di masa mendatang yang juga menguasai remo Jombangan seperti dirinya

Berkembang
Beda dulu beda sekarang. Dulu remo hanya ditarikan laki-laki. Sekarang, ditarikan pula oleh perempuan. Dulu, remo hanya dibawakan sebagai tari pembuka pertunjukan ludruk (seni teater dengan dialog bahasa Jawa). Sekarang, dibawakan sebagai tari pembuka untuk acara lain-lain, tidak terbatas pada ludruk. Misalnya, pada perayaan sebuah event atau menyambut tamu negara.

Dulu, pentas remo hanya bisa disaksikan di Jombang. Sekarang, bisa disaksikan di kota dan kabupaten lain di Jawa Timur, seperti Surabaya, Malang, dan Mojokerto.

Di Surabaya misalnya, tari remo kerap kali ditampilkan secara massal pada peringatan hari jadi kota pahlawan tersebut. Pada Desember 2019 lalu, arek-arek Suroboyo berhasil memecahkan rekor MURI untuk pertunjukan tari remo dengan peserta terbanyak sejumlah 2.655 orang. Pertunjukan tersebut digelar dalam rangka peringatan dies natalis Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ke-55.

Tampilan
Kekhasan penari remo adalah mengenakan gelang kaki yang mengeluarkan bunyi gemerincing. Bunyi gemerincing berasal dari lonceng-lonceng kecil yang menghiasi gelang bernama gongseng.

Selain gongseng, aksesori lain yang dikenakan penari remo antara lain udeng dan sampur. Udeng adalah penutup kepala. Warnanya bisa merah, bisa juga cokelat. Sementara itu, sampur adalah nama lain selendang. Warnanya biasanya merah.

remo
Sumber foto:surabaya.go.id

Untuk kostumnya, penari remo mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih, hitam, atau merah sebagai atasan dan celana selutut berwarna hitam sebagai bawahan.

Keseluruhan aksesori dan kostum tersebut plus riasan rambut dan wajah tentunya, membuat penari remo terlihat maskulin. Ya, meski penarinya perempuan, ia pun tetap akan nampak maskulin.

Kemaskulinan itu kian dipertajam dengan gerakan hentakan kaki ke lantai yang disebut gedrug. Sepanjang menari, gedrug dilakukan berulang-ulang. Gerakan ini diartikan sebagai menghentakkan kaki ke bumi. Lebih dalam, gerakan tersebut bermakna akan kesadaran manusia kehidupan di bumi, bahwa bumi adalah sumber hidup manusia.

Artikel ini ditulis oleh Laras Prameswari - Surabaya

timur jawa remo tari

Berita Video