Menikmati Coto Khas Pangkalan Bun di Tepian Sungai Arut

Food & Travel   26 Maret 2020
Foto: brisik.id


Pangakalan Bun merupakan sebuah kota kecil yang berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sebagai sebuah Ibukota Kabupaten, Pangkalan Bun memiliki keunikan tersendiri yang tidak kalah dengan daerah lain.

Hidup dengan memanfaatkan hasil alam sebagai sumber sandang, papan, hingga pangan menjadikan kuliner yang satu ini sebagai ciri khas Pangkalan Bun. Masyarakat memanfaatkan singkong sebagai bahan dasar makanan pengganti nasi.

Berbicara mengenai olahan singkong atau ubi kayu, mungkin olahan yang terbayang dibenak Anda adalah singkong goreng, singkong rebus, atau getuk. Berbeda kondisinya dengan di Pangkalan Bun, singkong diolah menjadi coto menggala.

Menggala merupakan bahasa Dayak yang jika diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah singkong. Coto menggala sendiri hanya ada di kota Pangkalan Bun dan menjadi salah satu kuliner yang wajib dicicipi saat berkunjung ke kota kecil satu ini.

coto menggala
Foto: brisik.id


Serupa seperti sup ayam, cara masak panganan satu ini juga cukup mudah. Pembuatan coto menggala menggunakan bumbu sop dipadukan dengan sohun, wortel, suwiran ayam atau udang, taburan daun seledri dan kerupuk bawang diatasnya. Disajikan dengan ditemani ceker ataupun sayap ayam menjadikan coto semakin lezat.

Coto menggala semakin sedap dinikmati saat hangat dan dimakan dengan tambahan perasan jeruk nipis, sambal, dan kecap manis. Keunikan singkong rebus yang dibumbui dengan cita rasa gurih dan kaya rempah menjadikan kuliner satu ini dapat dijadikan pilihan bagi pecinta kuliner untuk mencobanya.

Pada tahun 2008 lalu, coto menggala pernah membuat rekor MURI dengan menghidangkan 8000 mangkok yang dijejer di jalanan sepanjang 2 km. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan coto menggala ke luar daerah di luar warga Kotawaringin Barat.

coto menggala
Foto: brisik.id

Kurangnya pengenalan atau promosi mengenai coto menggala menjadikan banyak kalangan yang masih belum familiar dengan makanan ini. Namun, coto menggala masih menjadi kuliner favorit masyarakat Kotawaringin Barat khusunya Pangkalan Bun. Saat ini, coto menggala kerap hadir di Pawai Adab dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kobar (Kotawarigin Barat). Coto menggala juga menjadi menu andalan di beberapa warung makan yang ada di dipinggiran kota hingga pinggiran Sungai Arut.

Salah satu warung makan yang menjadikan coto menggala sebagai menu utama ialah Warung Gardu. Harga satu mangkuk coto menggala biasa dibandrol dengan senilai Rp8.000, sementara untuk coto menggala dengan tambahan ceker dikenakan harga Rp10.000 dan tambahan sayap ayam Rp12.000.

Menu lain yang dijual di kedai ini adalah pecel. Harga satu porsi untuk pecel ialah 6.000 rupiah, sangat terjangkau bukan?

coto menggala
Foto: brisik.id

Warung ini juga menggelar lapak beberapa jajanan tradisional, diantaranya putu mayang, kue talam pandan, kue pais singkong, kerupuk basah dan aneka gorengan dengan harga 1.000 rupiah untuk masing-masing jajanan.

Kesederhanaan warung makan yang berada di tepi Sungai Arut ini masyur di kalangan masyarakat Pangkalan Bun. Beralamat di Jl. Barame Kelurahan Mendawai, Pangkalan Bun, warung ini sangat nyaman dikunjungi untuk sekedar nongkrong sambil mencicipi kuliner khas Kotawaringin Barat maupun untuk bercengkrama dengan teman atau sanak keluarga.

Karena letaknya diatas gertak (jembatan kayu) di bantaran Sungai Arut, Anda akan disuguhkan pemandangan sungai dan segala aktivitasnya. Warung ini ramai diserbu mulai pukul setengah 8 pagi hingga habis atau sekitar pukul 1 siang. Kalangan yang datang juga dari berbagai lapisan, mulai dari pelajar hingga karyawan.

Artikel ini ditulis oleh Rahmaida - Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah
back to top