Teknologi Food Printing Bisa Bantu Lansia

Techno 16 Maret 2020

lansia print food

Foto: singaporetech.edu.sg


Dewasa ini, printer makanan 3D digunakan di industri untuk membuat cokelat dan kue kering. Namun di Politeknik Singapura, para peneliti sedang mengeksplorasi ide pencetakan makanan yang didambakan lansia, seperti kepiting cabai dan durian, tetapi dengan sentuhan baru.

Dengan pencetakan makanan 3D, orang dapat menghasilkan makanan yang tidak hanya enak dan lebih sehat untuk orang tua, tetapi juga lebih mudah bagi mereka untuk dikunyah.

Kemampuan mencetak makanan ini berpotensi untuk merevolusi cara kita makan, dengan menawarkan kenyamanan serta penyesuaian dalam hal tekstur dan bahkan nutrisi.

Teknologi cetak 3D bukanlah hal baru, meskipun biasanya dikaitkan dengan pembuatan bahan untuk membuat desain mobil, pesawat, dan rumah. Ini adalah proses dimana bahan makanan (dalam bentuk pasta atau gel) dibentuk menjadi desain berlapis yang diprogram pada komputer.

Di Singapore University of Technology and Design (SUTD), para peneliti sedang berupaya untuk memajukan metode ini, termasuk mengembangkan jenis ″tinta″ makanan baru, yang dapat digunakan untuk mempertahankan struktur makanan. Ini memiliki sifat yang mirip dengan pasta gigi.

Beberapa peneliti juga bekerja sama dengan Rumah Sakit Khoo Teck Puat untuk membuat makanan versi cetak bagi pasien lanjut usia dan yang kesulitan menelan makanan. Makanan ini termasuk ubi, kacang hijau dan bahkan susu. Wortel, labu pahit, bayam dan kacang polong termasuk di antara yang bisa dicetak oleh para peneliti, sementara ayam, buah-buahan dan nasi menjadi target berikutnya.

Di Swedia, dua kota sudah menguji teknik pencetakan makanan baru untuk rumah jompo. Idenya adalah untuk merangsang selera penghuninya dengan membuat makanan bubur terlihat seperti hal yang nyata.



food print
Sumber foto:3dprint.com

Pada saat ini, bagaimanapun, ada sejumlah keterbatasan pada makanan yang dapat dicetak. Diperlukan sekitar 30 hingga 45 menit hanya untuk mencetak capit kepiting.

Dengan banderol harga sekitar S$5.000, printer makanan 3D komersial juga di luar jangkauan kebanyakan orang untuk saat ini.

Tetapi beberapa ahli mengatakan hanya masalah waktu sebelum pencetakan makanan menjadi hal umum untuk pembuatan dan layanan makanan.

Anrich3D, sekarang mengembangkan pencetakan makanan 3D berdasarkan preferensi nutrisi individu. Ini bertujuan untuk memproduksi makanan yang dipersonalisasi secara massal, seperti burger, pizza, dan sandwich, menggunakan aplikasi dan mesin penjual otomatis.

Di Jepang, sebuah perusahaan teknologi makanan datang dengan konsep membuat sushi cetak 3D yang disesuaikan untuk setiap restoran berdasarkan data biologis individu.

lansia print food

Berita Video