Berkat Tinta Tak Kasat Mata, Murid Jurusan Ninja Raih Nilai Tinggi

News   13 Oktober 2019

Sumber gambar: BBC

Seorang mahasiswi di Jepang jurusan sejarah ninja baru-baru ini dipuji oleh dosennya karena menyerahkan selembar kertas kosong pada tugas yang mengharuskannya untuk menulis esai tentang ninja. Kok bisa?

Di Jepang, ninja dikenal dengan operasi rahasia mereka. Jadi ketika sang dosen dari gadis bernama Eimi Haga di Universitas Mie ini memintanya untuk menulis esai tentang kunjungan ke Museum Ninja Igaryu, ia lantas memutuskan untuk melakukannya dengan cara yang tak biasa.

Ditambah lagi, dosen itu mengatakan ia sangat menghargai mahasiswanya dalam hal kreativitas. Itulah mengapa Eimi memiliki motivasi ekstra untuk menghasilkan sesuatu yang akan membuat tugasnya menonjol. Esainya dibuat sangat cerdik, bahkan sang dosen perlu 'menggaruk kepala' untuk sementara waktu.

“Ketika profesor mengatakan di kelas bahwa dia akan memberi nilai tinggi untuk kreativitas, saya memutuskan bahwa akan membuat esai yang menonjol daripada yang lain,” ujar Eimi baru-baru ini kepada wartawan Jepang.

“Aku berpikir sejenak, dan menemukan ide aburidashi,” imbuhnya.

Aburidashi adalah teknik tradisional Jepang yang digunakan untuk bertukar korespondensi rahasia di masa lampau. Gadis yang sudah terpesona dengan ninja sejak menonton serial anime ini telah menghabiskan waktu berhari-hari untuk meneliti teknik tersebut. Ia kemudian berjam-jam merendam dan menghancurkan kacang kedelai demi membuat ramuan tinta yang tidak terlihat itu.

mahasiswi ninja
Sumber gambar: BBC

Perempuan berusia 19 tahun ini merendamnya dalam semalam, menghancurkannya dan memeras ekstrak biji kedelai menggunakan kain. Ia kemudian mencampur ekstrak itu dengan air, menghabiskan beberapa jam lagi agar mendapat konsentrasi yang tepat. Lalu ia gunakan sikat halus untuk menulis esai di atas kertas "washi" Jepang. Saat ia menyerahkan selembar kertas kosong itu, dosen sejarah ninja-nya dibuat terkejut.

“Saya telah melihat laporan seperti itu ditulis dalam kode, tetapi tidak pernah melihat satu pun dilakukan di aburidashi,” ujar sang dosen, Prof. Yuji Yamada.

“Sejujurnya, saya punya sedikit keraguan bahwa kata-kata itu akan keluar dengan jelas. Namun ketika saya benar-benar memanaskan kertas di atas kompor gas di rumah, kata-kata itu mulai muncul dengan sangat jelas dan saya pikir bagus sekali,” imbuhnya.

Yamada mengaku tidak membaca seluruh esai. Namun sebagai gantinya ia memilih untuk meninggalkan bagian dari kertas yang tidak dipanaskan itu untuk dipamerkan kepada media.

Eimi pun akhirnya memperoleh nilai tertinggi berkat kreativitasnya.
back to top