3500 Wanita di Iran Diizinkan Nonton Sepak Bola di Stadion

Woman   09 Oktober 2019

Sumber gambar:rferl.org

Rencana Iran untuk membatasi jumlah wanita yang dapat menghadiri pertandingan kualifikasi Piala Dunia sepak bola di Teheran dianggap diskriminatif dan berbahaya, kata organisasi internasional, Human Rights Watch.

Pertandingan antara Iran vs Kamboja pada 10 Oktober besok akan menjadi sejarah karena ini adalah kali pertama dalam 40 tahun di mana wanita bisa secara legal membeli tiket untuk menonton pertandingan di stadion. Tiket yang mulai dijual 3 Oktober, diperkirakan dibeli oleh 3.500 wanita dan terjual habis dalam hitungan menit.

Pada 22 September 2019, Presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan wanita akhirnya akan diizinkan masuk ke stadion Azadi di Teheran untuk menonton pertandingan pada 10 Oktober. Itu merupakan batas waktu yang diberikan FIFA di mana wanita harus diizinkan masuk ke stadion sepak bola di Iran untuk semua pertandingan. Namun, otoritas Iran telah membatasi jumlah wanita yang dapat hadir sebanyak 4.600 dari kapasitas 100.000 kursi.

Diskriminasi terhadap wanita di dunia sepak bola bertentangan dengan konstitusi FIFA. Dalam aturannya mereka menyatakan bahwa diskriminasi terhadap wanita "sangat dilarang dan dihukum dengan penangguhan atau pengusiran" sebagai anggota FIFA.

Iran telah lama menjual tiket stadion berdasarkan gender, yang hanya mengizinkan laki-laki untuk membelinya. Wanita dan gadis Iran yang ingin menghadiri pertandingan sepak bola telah menentang larangan itu selama bertahun-tahun dengan menyamar sebagai pria. Banyak yang memposting di media sosial untuk menunjukkan penolakan mereka terhadap larangan tersebut dan telah menulis surat kepada para pemimpin FIFA, mendesak mereka untuk menegakkan aturan nondiskriminasi gender.

Iran adalah satu-satunya negara di dunia yang melarang wanita menghadiri pertandingan sepak bola dan olahraga lainnya di stadion. Sementara larangan 40 tahun ini tidak dituliskan ke dalam undang-undang atau peraturan, pemerintah Iran dengan tegas menegakkannya. Larangan ini telah menyebabkan penangkapan, pemukulan, hingga penahanan.

Bulan kemarin (9/9), seorang penggemar sepak bola wanita, Sahar Khodayari yang dijuluki "Gadis Biru", meninggal setelah membakar dirinya sendiri di luar gedung pengadilan. Dia takut dipenjara selama enam bulan setelah menghadiri pertandingan di stadion Azadi menyamar sebagai seorang pria.

sahar
Sumber gambar:https://english.mojahedin.org

Seorang wanita Iran yang telah berkampanye menentang larangan menonton di stadion mengatakan kepada Human Rights Watch tentang hambatan dan bahaya bagi wanita yang ingin menonton di stadion.

″Kami bisa menghadapi bertahun-tahun di penjara. Wanita-wanita ini bukan aktivis. Mereka adalah penggemar yang hanya ingin menghadiri pertandingan. Dan jika mereka mengirim Anda ke penjara, Anda memiliki catatan kriminal meskipun itu hanya catatan kriminal karena ingin pergi ke pertandingan sepak bola. Tetapi catatan kriminal mengikuti Anda selama sisa hidup Anda,″ kata seorang aktivis dari OpenStadiums, yang tetap anonim untuk perlindungannya.
back to top