Wisata Religi Sambil Menikmati Panorama di Pura Penataran Agung Kilisuci Kediri

Food & Travel   08 Oktober 2019

Sumber gambar: festivaljalanjalan.com

Desain arsitektur yang cantik berhiaskan patung-patung dan ornamen-ornamen yang menarik, membuat tempat-tempat peribadatan umat Hindu dan Tri Dharma sering dijadikan sebagai objek wisata religi, salah satu diantaranya adalah Pura Penataran Agung Kilisuci yang ada di Kediri.

Tempat ini banyak dikunjungi wisatawan, selain karena memiliki bentuk bangunan yang menarik juga karena lokasinya dekat dengan kawasan wisata Goa Selomangleng yang jaraknya hanya sekitar 200 meter.

Wisatawan yang berkunjung ke Goa Selomangleng, Goa Selobale, Museum Airlangga atau Waterboom, biasanya akan singgah ke pura ini untuk melepas lelah sambil menikmati indahnya bangunan dan sejuknya udara di kompleks Pura.

Terlebih untuk memasuki kawasan pura tidak dipungut biaya sama sekali, karena fungsi dari tempat ini memang sebagai tempat beribadah yang sampai sekarang masih difungsikan.

Sejarah Kilisuci
Pura Penataran Agung Kilisuci dibangun di atas lahan seluas 6.500 meter2 yang secara administratif beralamat di JL. Goa Selomangleng No.52, Desa Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Kata “Kilisuci” digunakan sebagai nama dari tempat ini, karena Goa Selomangleng dan Goa Selobale yang ada di dekatnya dikenal sebagai tempat belajar dan tempat Dewi Kilisuci bertapa menghabiskan sisa umurnya, setelah menolak mewarisi takhta dari ayahandanya, Raja Airlangga.

Banyak versi yang bertutur tentang keberadaan Dewi Kilisuci. Dalam Cerita Panji, Kilisuci digambarkan sebagai sosok agung dan dihormati serta sering membantu Panji Inu Kertapati dan istrinya Galuh Candrakirana dalam menghadapi berbagai persoalan.

Dalam mitos terciptanya Gunung Kelud, Kilisuci digambarkan sebagai sosok perempuan cantik yang dilamar Mahesasura, seorang manusia berkepala kerbau. Dalam kisah tersebut dituturkan bahwa Kilisuci bersedia menerima lamaran Mahesasura dengan syarat dibuatkan sebuah sumur raksasa.

Permintaan sang pujaan hati dapat diwujudkan dengan mudah oleh Mahesasura yang sakti. Dia tidak sadar bahwa dirinya sebenarnya sedang dijebak. Begitu sumur raksasa terwujud, Mahesasura didorong sehingga terjatuh ke dalam sumur.

Selanjutnya sumur tersebut ditimbun batu oleh Dewi Kilisuci yang dibantu prajurit Kediri. Timbunan tersebut menggunung hingga tercipta Gunung Kelud. Karena itu, setiap kali Gunung Kelud meletus, korbannya selalu daerah-daerah yang ada di Kediri, sebagai perwujudan dendam dan amarah dari arwah Mahesasura.

Di antara sejumlah versi tentang keberadaan Dewi Kilisuci, yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya adalah kisah yang tertuang dalam babad Tanah Jawi. Dalam kisah tersebut dituturkan bahwa pada tahun 1042, Raja Airlangga turun takhta dan menyerahkan kekuasaannya pada putri mahkotanya Sanggramawijaya Tunggadewi.

Namun, putri mahkota tersebut menolak dan lebih memilih untuk menjadi seorang resi dengan bertapa di Goa Selobale. Akibat dari penolakan tersebut, Kerajaan Kahuripan dibagi menjadi dua bagian guna menghindari perang saudara, yaitu Kerajaan Jenggala yang dipimpin Mapanji Garasakan dan Kerajaan Kadiri dengan rajanya Sri Samarawijaya. Sementara itu Sanggramawijaya Tunggadewi yang memilih menjadi resi, berganti nama menjadi Dewi Kilisuci.

Menikmati Keindahan Pura Penataran Agung Kilisuci
Lewat pintu gerbangnya, Pura Penataran Agung Kilisuci sudah dapat dinikmati keindahannya dari kejauhan. Pintu gerbang tersebut berbentuk Gapura Candi Bentar berhias patung dua kesatria berwajah kera yang membawa gada.

Pada halaman depan, pengunjung akan merasakan nuansa Bali karena sejumlah bangunan yang ada di sana memiliki ornamen bergaya Bali. Bangunan tersebut diantaranya adalah bangunan pura, bale kul kul, bale bengong dan peralatan gamelan. Tepat di tengah halaman terdapat pohon kemboja.

kilisuci
Sumber gambar: sejarah-negara.com

Visualisasi Dewi Kilisuci dapat dilihat di sudut depan halaman pura berbentuk patung perempuan berwajah cantik. Patung setinggi 2,5 meter tersebut berdiri di tengah kolam kecil sambil membawa benda yang menyerupai pot bunga. Hiasan pada bagian mahkota dan busana yang dikenakan Patung Dewi Kilisuci ini dibuat dengan begitu detail, sehingga tampak sangat indah.

kilisuci
Sumber gambar: aroengbinang.com

Setelah melewati halaman yang hijau oleh rerumputan, pengunjung akan menjumpai bangunan utama pura yang bagian tengahnya memiliki tiga buah pintu dengan ukuran yang besar. Di pura itulah umat Hindu dan Tridharma menjalankan aktivitas beribadah dan bagi masyarakat umum yang tidak berkepentingan tidak diperkenankan memasuki bagian dalam pura.
back to top