5 dari 20 Perusahaan Asing Jadi Tersangka Karhutla

News   02 Oktober 2019

Sumber gambar: Antara/Rony Muharrman

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menetapkan lima dari 20 perusahaan asing sebagai tersangka kebakaran lahan dan hutan atau karhutla.

Dari lima perusahaan itu, tiga perusahaan perkebunan kelapa sawit adalah milik Malaysia, yakni PT AER dan PT ABP di Ketapang (Kalimantan Barat) serta PT IGP di Landak (Kalimantan Barat). Sedangkan dua lainnya adalah milik Singapura, yakni perusahaan perkebunan kelapa sawit PT AUS di Katingan (Kalimantan Tengah) dan PT NPC, perusahaan sawit penyertaan modal asing (PMA) di Kutai Timur (Kalimantan Timur).

Adapun perusahaan asing lainnya yang hingga kini masih dalam proses pemeriksaan termasuk perusahaan perkebunan PT MJSP, perusahaan perkebunan kelapa sawit (PT SIA, PT API, PT KGP, PT SMA, PT KAL, PT AAI, PT WAJ, PT GMU, PT SKS, dan PT RKA), dan perusahaan hutan tanaman industri atau HTI (PT SP, PT GH, PT HKI, dan PT FI).

tersangka karhutla
Sumber gambar: Antara/FB Anggoro

Hal ini seperti diungkap oleh Dirjen Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani.

“Berdasarkan data sementara, 20 dari 64 perusahaan yang kami tutup adalah perusahaan asing. Sebagian besar dari mereka adalah Malaysia dan Singapura,” ujar Sani.

Sani menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membeda-bedakan proses hukum meski perusahaan berasal dari negara lain. Mereka tetap akan memperoleh sanksi berdasarkan kasus karhutla.

"Siapa pun yang melakukan kejahatan kebakaran lahan dan hutan harus bertanggung jawab," katanya.

Menurut Sani, perusahaan yang terbukti membakar lahan tidak akan dapat menghindari sanksi lantaran pihaknya dapat melacak jejak forensik, baik dari lokasi, waktu, dan daerah.

"Mereka tidak akan bisa lari," tegas Sani.

Lebih lanjut, ia meminta pemerintah daerah atau pemda untuk mengawasi perusahaan berlisensi secara teratur. Dengan pengawasan semacam itu, tambah Rasio, diperlukan agar bencana kebakaran hutan tidak terulang kembali.
back to top