Perang Melawan Plastik Berkobar dari Thailand

Woman   25 September 2019

Sumber gambar: indiatimes.com

Saat ini mata dunia tengah memandang Greta Thunberg, seorang gadis belia yang berjuang keras menyuarakan pentingnya manusia untuk menjaga kelestarian alam demi generasi mendatang. Greta Thunberg tidak sendirian. Di Thailand, terdapat gadis belia lain yang tengah berjuang melawan penggunaan plastik yang mencemari lingkungan.

Adalah Lilly, seorang gadis kecil berusia 12 tahun yang setiap hari meluncur di sungai-sungai di Bangkok menggunakan papan kayu. Lilly 'memancing' sampah dari sungai-sungai kotor tersebut demi misinya untuk membersihkan Thailand dari sampah plastik dan kaleng.

Thailand adalah penyumbang global keenam terbesar untuk polusi laut, dimana sampah plastik merupakan ancaman serius bagi lingkungan. Rata-rata penduduk Thailand sendiri menggunakan delapan kantong plastik setiap hari, sehingga tidaklah mengherankan jika disebut Thailand termasuk dalam negara yang berkontribusi besar dalam pencemaran lingkungan menggunakan limbah plastik. Sementara penggunaan tas atau kantung plastik sekali pakai tercatat sebanyak 3000 buah per tahun. Angka ini 12 kali lebih banyak daripada penggunaan tas sekali pakai di Uni Eropa.

"Saya seorang anak yang sedang berperang," kata Lilly, setelah selama satu jam penuh mengambil kaleng, tas dan botol yang terombang-ambing di sungai dan kanal di Bangkok. "Saya mencoba untuk tetap optimis tetapi saya juga marah. Dunia kita menghilang," tambahnya kemudian.

lily aktivis
Sumber gambar: balipost.com

Perjuangan Lilly tidaklah remeh. Di bulan Juni kemarin, gadis kecil ini berhasil membujuk Central, sebuah supermarket besar di Bangkok, untuk berhenti kantong plastik di tokonya seminggu sekali.

"Saya berkata pada diri sendiri bahwa jika pemerintah tidak mendengarkan saya, akan perlu untuk berbicara langsung kepada mereka yang membagikan kantong plastik dan meyakinkan mereka untuk berhenti," jelas Lilly.

Seperti layaknya seluruh hal besar memang dimulai dari langkah yang kecil, langkah Central kemudian diikuti oleh banyak merk besar lainnya. Salah satunya adalah warung waralaba 7-Eleven, yang berjanji untuk berhenti membagikan kantong plastik sekali pakai pada Januari tahun depan.

Kematian makhluk-makhluk laut yang beredar di sosial media merupakan salah satu hal yang memicu perlawanan keras terhadap sampah plastik. Kematian bayi dugong bulan lalu diratapi oleh banyak warga net di media sosial. Hal ini menghidupkan kembali gagasan di level pemerintah mengenai larangan penggunaan plastik yang berpotensi mencemari lingkungan.

lily aktivis

[S__12451993.jpg]
Sumber gambar: khaosodenglish.com

Aksi Lilly dan Greta Thunberg ini tentunya mendapat simpati banyak pihak, terutama mereka yang telah dewasa dan duduk di organisasi dan pemerintahan. "Anda mungkin dapat menghilangkan semua bukti dan advokasi di dunia, tetapi sangat sulit untuk mengabaikan seorang anak ketika mereka bertanya mengapa kita menghancurkan planet yang harus mereka tinggali," kata Kakuko Nagatani-Yoshida, koordinator regional untuk bahan kimia, limbah dan kualitas udara dari UN Environment.

Semuanya Tergantung dari Kita
Nama asli Lilly sendiri adalah Ralyn Satidtanasarn. Gadis keturunan AS-Thailand itu mulai berkampanye pada usia delapan tahun setelah liburan di pantai selatan Thailand di mana dia merasa ngeri dengan pantai yang tertutup sampah.

"Orang tua saya membantu untuk membersihkan, tetapi itu tidak ada gunanya karena sampah lain dibuang ke laut keesokan harinya," papar Lilly.

Ketika Greta Thunberg, seorang gadis berusia 16 tahun, memimpin gerakan global untuk berperang melawan pemanasan global, hati Lilly pun tergerak. Terinspirasi oleh greta, Lilly pun duduk di depan gedung-gedung pemerintah Thailand. "Greta Thunberg memberi saya kepercayaan diri. Ketika orang dewasa tidak melakukan apa-apa, kini kita anak-anak harus bertindak," kerasnya.

Lilly pun seringkali terpaksa membolos sekolah demi terus memperjuangkan misinya. Ketika ditanya apakah dirinya akan bergabung dengan Greta Thunberg di New York untuk protes di konferensi iklim PBB, dirinya mengatakan bahwa ia tidak akan bergabung.

"Tempat saya di sini. Pertarungan juga terjadi di Asia Tenggara," katanya.

Meskipun Lilly juga kerapkali ingin bermain seperti anak-anak seusianya, namun pola pikir Lilly sendiri cukup dewasa untuk anak berusia 12 tahun. Sementara aktivis lain memujinya, Lilly dengan tegas mengatakan bahwa dirinya menentang kepentingan perusahaan besar yang ingin menunggangi misinya.

Lilly pun mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya, yang membantunya menulis pidato kepada PBB dan pejabat pemerintah. Ibunya, Sasie, yang juga mantan aktivis lingkungan, mengatakan "Awalnya, saya pikir keinginan Lilly hanyalah keinginan anak-anak semata. Namun melihat bagaimana Lilly bertahan di misinya, saya memutuskan untuk mendukungnya."
back to top